Dalam konteks Islam alur-kronologi pembentukan makhluk baru diiringi oleh beberapa fase yang berurutan secara sistematis, mulai dari janin kemudian terbentuknya jasad yang siap ditiupkan ruh kedalamnya hingga terbentuk tubuh yang sempurna dan siap dilahirkan ke dunia semuanya berjalan sesuai dengan Sunatullah dan atas kehendakNya.
Dalam konteks Islam alur-kronologi pembentukan makhluk baru diiringi oleh beberapa fase yang berurutan secara sistematis, mulai dari janin kemudian terbentuknya jasad yang siap ditiupkan ruh kedalamnya hingga terbentuk tubuh yang sempurna dan siap dilahirkan ke dunia semuanya berjalan sesuai dengan Sunatullah dan atas kehendakNya.
Pada tahun ini saya berkesempatan mengunjungi kembali beberapa negara Eropah. Banyak fakta yang menarik untuk dibagi bersama. Diantara yang menarik adalah ketika saya berkunjung ke Inggeris, Maret 2010. Di Nottingham saya dapat cerita bahwa sebuah penelitian di Universitas Nottingham menemukan korelasi bahwa semakin bodoh seseorang itu ia semakin religius dan sebaliknya semakin sekuler dan bahkan atheist ia semakin cerdas. Saya tidak baca hasil riset itu. Tapi setahu saya, menurut hasil riset W.Cantwell Smith definisi religion di Barat itu masalah, dan otomatis arti “religiusitas” pun begitu. Makna cerdas pun juga masalah. Sebab kini berkembang istilah kecerdasan spiritual. Jadi desain penelitian tersebut nampaknya perlu dipersoalkan.
Benarkah masyarakat Barat sekuler sekarang ini cerdas. Perlu dikaji lebih lanjut. Jika maksudnya adalah kecerdasan intelektual itupun masih perlu ujian lebih mendalam. Sebab kecerdasan itu bukan karena pandangan hidup sekulernya, mungkin faktor lain. Jika maksudnya adalah kecerdasan spiritual, jelas sekali tidak benar.
Buktinya di Manchester, sinagog yang telah menjadi Museum, dan gereja yang telah menjadi Masjid. Di Birmingham, masjid Mu’az adalah bekas gereja dan seminari. Beberapa gereja di daerah Aston, Birmingham sudah menjadi sarang burung dara. Jumlah jemaat gereja kalah banyak dibanding “jama’ah” yang antri masuk bar. Gereja sudah tidak lagi dikunjungi banyak orang. Di sana tidak ke gereja berarti tidak religius lagi. Mungkin karena sudah putus asa, di Manchester terdapat nama gereja “A Church for those who don’t like to go to church”. Itulah arti pernyataan “spirituality has gone to the east”. Persis seperti kata Prof.David Thomas, dosen teologi di universitas Birmingham Barat itu maju tanpa agama. Artinya semakin sekuler, semakin rendah spiritualitasnya. Mungkin itu sebabnya mengapa di Barat training kecerdasan spiritual menjamur. Jadi riset diatas tidak reliable. Apalagi menurut Islam spiritualitas dan intelektualitas itu hampir tidak beda.
Benarkah jalan sekuler adalah pilihan cerdas dan solusi segala masalah. Ternyata tidak. Menyingkirkan agama dari publik malah bermasalah. Di Perancis, Jerman, Swiss dan beberapa negara Eropah yang anti agama, pemerintahnya mulai mengurusi agama. Di Inggeris pemerintah terpaksa membolehkan Muslim buka mahkamah syariah. Kini di Amerika malah muncul idea de-privatization of religion, artinya agama tidak lagi bersifat privat. Harvey Cox, yang pernah menjual idea sekularisasi agama-agama, akhirnya mengoreksi idenya itu. Ia lalu menulis makalah berjudul Reconsidering Secularism. Barat kini seperti dalam kebingungan.
Menjadi sekuler ternyata juga tidak membuat orang bijak bestari. Bulan lalu saya menyampaikan public lecture di Universitas Wienna, Austria. Temanya tentang moderasi dan toleransi. Seorang peserta bertanya, mengapa di Indonesia orang bisa lebih toleran tapi disini dan negara Eropah tidak. Jawab saya, Barat itu terlalu sekuler dan bahkan terlalu kaku, sehingga tidak toleran pada agama. Di Indonesia agama bisa muncul di ruang publik. Ceramah agama-agama bisa muncul di TV. Tabligh akbar, Natalan atau peringatan hari keagamaan bisa diadakan diruang publik. Sesuatu yang mustahil terjadi di Barat. Ini bukti lain bahwa menjadi sekuler itu tidak membuat orang arif dan toleran. Sekuler malah bisa berarti ekslusif.
Tapi anehnya, yang kini dituduh ekslusif adalah sikap keberagamaan. Itupun berdasarkan analisa abad ke 16 dan 17, disaat mana sekte-sekte agama di Eropah waktu itu sering konflik. Sekte-sekte, atau agama-agama itu punya tuhannya sendiri-sendiri (teori geosentris) dan saling menyalahkan. Konflik bermuara pada pembunuhan. Andrew Sullivan di The New York Times Magazine menggambarkan bahwa gara-gara perang salib, inquisisi dan perang agama Eropah abad 16 dan 17 berlumuran darah. Bahkan lebih banyak dibanding di dunia Islam.
Tapi anehnya situasi itu dianggap terus terjadi hingga sekarang. Yang jadi sample adalah peristiwa 11/9 yang sejatinya penuh misteri itu. Padahal konflik agama selama ini, jikapun ada, tidak sebesar konflik politik. Tidak sebesar perang teluk dan invasi AS ke Irak dan Afghanistan. Jumlah yang mati sia-sia pun lebih banyak konflik politik. Tidak puas dengan sample peristiwa Jack Nelson-Pallmeyer, merujuk kepada kitab suci. Ia lalu menulis buku “Is Religion Killing Us? Evidence in the Bible and the Qur’an”. Intinya, kedua kitab ini memerintahkan pembunuhan.
Tapi konflik antar agama bukan satu-satunya alasan. Konflik yang sebenarnya justru antara agama dan sekularisme. Peter Berger terus terang, sekularisme gagal dan diganti dengan pluralisme. Sikap ekslusif itu diganti menjadi sikap inklusif dan pluralis. Secara teologis agama yang banyak itu, oleh John Hick, diteorikan menjadi bertuhan sama. Teologi agama-agama itu diperkirakan nantinya akan bersatu. Itulah teori global theology John Hick. Anehnya teori yang bermasalah ini ada pengikutnya, termasuk di Indonesia.
Di Leed, saya melewati sebuah gereja. Di depan gereja itu tertulis, “all race, all nation, all religion but one god”. Saya lalu segera menyimpulkan ini pasti penganut paham global theology. Dalam perjalanan saya dari Leed ke London saya kebetulan duduk berdampingan dengan seorang pendeta berkulit hitam. Saya lalu bertanya tentang tulisan gereja di Leed itu. Ternyata bagi dia itu benar. Ketika saya berkunjung ke Centre of Islam-Christian Relation, di Selly Oak College, Birmingham, disitu terpasang gambar Jesus tapi kepalanya seperti gambar dewa Wishnu dalam agama Hindu. Itu simbul pluralisme dan kesamaan Tuhan agama-agama.
Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi
Akhir-akhir ini pendidikan disoroti sebagai terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau spiritualistis sehingga nampak tidak rasional.
Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian. Ia meliputi seluruh aspek dalam diri manusia. Tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis. Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal: pertama letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, bagaimana menanamkan itu semua kedalam diri manusia. Sistim apa yang cocok untuk pengembangan anak dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistim pendidikan yang terpadu, perlu dipikirkan terus menerus dan seksama.
Namun, sebelum berfikir tentang metode atau sistim perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu. Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.
Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul Bayan al-Farq, Bayn al-Sadr,wa al-Qalb,wa al-Fuad wa al-Lub. (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar), Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran). Istilah-istilah sadr yang dalam bahasa Indonesia menjadi sadar-kesadaran ternyara berbeda artinya dari istilah qalb, hati atau kalbu. Fuad yang di Indonesiakan menjadi nurani berbeda lagi dari lubb yang arti sebenarnya adalah akal pikiran yang berimana. Ulul Albab adalah orang yang berakal fikiran tauhidi.
Namun itu semua merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang di bedah dadanya tentu sadr, qalb, fuad dan lub itu tidak akan ditemukan secara fisik. Maka dalam buku ini Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa hati atau qalb itu adalah nama yang komprehensif yang kesemuanya bersifat batiniyah alias tidak zahir alias tidak empiris.
Sadr ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata di dalam mata. Sadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk kedalam sadr dan bukan kedalam qalb. Akan tetapi sadr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata sadara (muncul), atau sadr (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).
Jika sadr ada di dalam qalb maka qalb itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa. Namun, qalb itu adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan.
Sebagai raja qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka di dalam qalb itu pun terdapat ilmu.
Jika qalb (hati) itu adalah mata maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berfikir maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada ditengah-tengah hati, sedangkan hati ditengah-tengah sadar.
Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan sadr tempa cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah maka lubb berkaitan dengan cahaya ketauhidan.
Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent. Tapi memang proses berfikir demikian adanya. Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana ilmu didapat akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman. Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim Tirmidhi diatas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang. Wallau a’lam
Written by Hamid Fahmy Zarkasyi
Optimis sebagai modal berorganisasi
Posted by IKPM SOLO RAYA in Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
Solo Raya - Suatu organisasi tanpa gerak dan kegiatan adalah sebuah wadah tidak bermakna, jangankan mengambil manfaat darinya bahkan untuk mempertahankan eksistensinya pun akan terasa sia-sia. Ungkapan ini bukan berasal dari organisator ulung atau nara sumber yang kadar intelektualitasnya tinggi, akan tetapi berasal dari hati nurani kita yang merupakan guru jiwa pejuang.Kehidupan yang telah terbingkai oleh atmosfer yang pragmatis-materialis ini kadang-kadang membuat kita sesak dalam bernafas, jika tidak pandai kita memahamkan ajaran agama kita akan dianggap membual, terlebih jika pemahaman kita kurang mendasar maka semuanya hanya akan dianggap sebagai sebuah nyayian.
Ikhwan akhwat sekalian, bekal yang telah kita miliki memang belum cukup untuk melangkah dan berkecimpung dalam berbagai laga akan tetapi kita harus mengamalkan yang sedikit itu secara maksimal, maka dalam kondisi kita saat ini yang terbenturkan oleh beberapa problema dalam berorganisasi hendaknya kita menyuguhkan hal yang baik kepada umat ini, memberikan tauladan yang baik kepada generasi kita.
"Urunan Ide/iuran pemikiran" adalah kata yang tepat untuk membentuk dan menjalankan sebuah organisasi. Sebab dengan adanya sumbangan ide maka organisasi seperti IKPM kita ini akan berkembang, yang tentunya harus didukung dengan komunikasi yang baik antara sesama aktivis yang berkecimpung didalamnya dengan saling mengedepankan rasa tanggungjawab dan kedewasaan, karena rasa tanggungjawab dan kedewasaan inilah yang dijadikan salah satu tolak ukur bagi kemampuan kaum terpelajar dalam berorganisasi.
Maka ikhwan-akhwat sekalian dalam hidup berorganisasi menurut agama kita bukanlah siapa yang lebih unggul dan lebih bisa sendiri, akan tetapi mari kita duduk, berdiri, bergerak dan lari sama-sama untuk menggapai prestasi dalam memperjuangkan kehidupan umat ini.
Untuk itu semua marilah kita serap kembali Energi dari Al-Qur'an berikut ini:
- Taatlah kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantah, yang akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar (QS, Al-Anfal:46).
- Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang rapi bagaikan bangunan yang kokoh (QS, Shaf:4).
Semoga kita termasuk bagian dari umat yang membawa manfaat dan bukan bagian dari mereka yang mendatangkan laknat, Na'udzubillahi min dzalik.(Thony)
Solo – Raya. Tidak aneh memang ketika bangsa ini mengalami banyak goncangan peristiwa kemudian Islam dijadikan objek sasaran dengan menunjuk-nunjuk hidung umat Islam untuk melampiaskan kekesalan, karena memang negeri ini dihuni oleh mayoritas umat Islam. Rasa-rasanya bangsa ini kurang bisa menyadari dengan baik apa yang sebenarnya terjadi dengan banyaknya peristiwa itu. Seberapa pun emosi seorang muslim jika ia memiliki pemahaman tentang agamanya secara baik dan benar tanpa dilebih-lebihkan, maka ia akan paham bahwa dalam Islam tidak ada anjuran untuk berbuat anarkis apapun alasannya.
Islam tidak mungkin akan melumpuhkan tatanan Negara Republik
Ikhwan/akhwat, lihatlah. Saat ini ada semacam nuansa kegalauan dihembuskan oleh pihak yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab. Dengan satu tujuan untuk kembali melemahkan sinergi umat ini - sebagai umat yang berkarakter dan punya identitas - dalam berbagai bidangnya terutama di negeri ini yang mulai menampakkan kemajuannya yang luar biasa dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan social-masyarakat, yang menjadi proyek percontohan kawasan Asia Tenggara dan Dunia Internasional dalam hal-hal yang kami sebutkan tadi.
Paling tidak ada tiga hal yang patut kita cermati dari sekian banyak instrument kegalauan yang sengaja digulirkan dalam komunitas umat ini:
Pertama; Orientasi perjuangan umat pada bidang politik tidak terarah dan tidak fokus. Entah disengaja atau tidak dalam hal politik umat ini telah terkotak-kotak, terpecah, dan tersekat, dalam partainya masing-masing yang berakibat tidak bisa bersatunya kekuatan umat, bahkan hanya untuk sekedar memenangkan PEMILU 2009 sekalipun. Ini adalah berita yang amat sangat menyedihkan, karena kita adalah umat mayoritas. Tapi kita harus hadir sebagai solusi disini, kita harus berbuat untuk keluar dari fenomena ini dan bersatu kembali demi kemajuan di masa yang akan datang, bukan membahas yang telah berlalu kecuali hanya untuk mengevaluasi.
Kedua; Islam menjadi objek utama berkaitan dengan tindakan terorisme diberbagai negara. Sejak beberapa tahun silam isu tentang terorisme yang mengobok-obok umat ini telah dilancarkan untuk memecah konsentrasi umat dalam menjalankan syari’atnya tanpa hasil yang signifikan, saat ini umat ini dalam ranah dan wilayah yang sama diserang lagi dengan isu tersebut, padahal pelakunya sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh pemegang aspirasi umat. Disini terdapat ketidakadilan Media dalam memberitakan aksi teror tersebut, seolah-olah Bom yang meledak itu adalah kehendak umat Islam, kehendak Instansi atau Lembaga Pendidikan yang berbasis Islam, seperti Ponpes Ngruki dan beberapa Lembaga Pendidikan Islam lainnya, padahal Islam sendiri berkali-kali menyatakan sikapnya yang tegas dan jelas tentang peristiwa yang menimpa bangsa ini, dan sebenarnya tidak perlu lagi Islam didekte untuk memahami makna Jihad dan bedanya dengan Teror oleh siapapun dan dimanapun. Seharusnya Media lebih cerdas dalam membaca semua ini, sehingga Media tidak mendapatkan image buruk yang hanya mancing di air keruh dengan wacana-wacana basinya, ditengah-tengah keprihatinan umat.
Ketiga; Dramatisir Virus H1N1, sebagai alat untuk memecah belah persatuan umat. Islam ini adalah sebuah agama yang amat sangat ’arif, selalu menganjurkan umatnya untuk selalu hidup dalam kebersamaan bukan saja dalam hal beribadah, akan tetapi dalam menghadapi segala tantangan zaman. Komunitas hidup berjama’ah ini tersimbolkan oleh Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam yang berangkat dari kultur yang berupa Pesantren. Itu berarti Ponpes adalah jantung dan nadi umat Islam. Sementara kalangan yang memusuhi Islam tentunya telah menganalisa ini semua kemudian merancang banyak misi, jika gagal dengan satu misi maka misi lain bolehlah dicoba. Adanya isu tentang wabah H1N1 ini bagaikan tambahan energi yang bisa dimodifikasi untuk membuat pusing dan memecah persatuan umat. Jika diekspose besar-besaran berita tentang banyaknya Ponpes yang diperkirakan terjangkit H1N1, maka tentunya umat yang telah hidup dalam atmosfir pragmatisme ini tidak mau lagi menganjurkan putra-putrinya untuk menuntut ilmu agama di Pesantren, dengan begitu lemahlah Islam di negeri ini pada beberapa masa yang akan datang, dan masuklah skenario musuh Islam ke negeri ini tanpa ada yang menghalangi lagi, Na’udzubillah min dzalik.
PR kita saat ini adalah memahamkan kepada umat Islam bahwa apa yang terjadi merupakan ujian Allah Swt atas keimanan kita. Sudahkah kita menjadi umat yang benar-benar beriman, atau beriman ketika kita berada di Masjid saja?. Jangan sampai kita lemah dengan banyaknya ujian yang kita hadapi, semakin kuat kita bertahan maka semakin banyak hikmah yang kita dapatkan, semakin banyak hikmah yang ada pada diri kita maka semakin meningkat pula derajat kita dihadapan makhluk dan dihadapan Allah Swt.
Dengan satu catatan bahwa Islam tidak akan pernah binasa dengan musim susah yang berkepanjangan dan tidak pula karena bencana, akan tetapi Islam akan binasa apabila umat ini mulai retak dan pecah. Sebagaimana Rasulullah dalam sebuah riwayat yang dibawakan Amir bin Said, Bersabda: ”Aku telah memohon kepada Allah Swt tiga perkara, dalam tiga perkara itu ada dua permohonan yang dikabulkan dan yang satu ditolak; 1.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berkepanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 2.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh A.S). Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 3.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan pergaduhan (percekcokan/perpecahan/peperangan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku ini tidak diperkenankan (telah ditolak) oleh Allah Swt.”
Demikianlah Ikhwan/akhwat, semoga banyaknya peristiwa yang mengasah keimanan kita ini bisa menghantarkan kita menuju derajat Taqwa.(Thony)
Alih Multi Bahasa
Tentang Kita
- IKPM SOLO RAYA
- Komunitas alumni PM. Darussalam Gontor yang berdomisili di wilayah: Surakarta, Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, Boyolali, dan Klaten
Kirim Info Anda Ke:
Data Kita
Ruang
Improvement Lughah
klasifikasi Tema Temporer
- April 2015 (4)
- Juli 2011 (2)
- April 2011 (1)
- Maret 2011 (1)
- November 2010 (1)
- Desember 2009 (1)
- Juli 2009 (1)
- Juni 2009 (1)
- Maret 2009 (3)
- Februari 2009 (2)
- Januari 2009 (4)
- Desember 2008 (9)
- November 2008 (1)
- Oktober 2008 (2)
- September 2008 (1)
- Agustus 2008 (2)
- Juli 2008 (2)
Al - Qur an
Kajian Religi
Gudang Informasi
- A. Gontorian
- Bisnisku Kayu Jati
- Depag.RI (Beasiswa)
- Depdiknas.RI (Beasiswa)
- Dinamika Generasi Islam
- Dinamika MUI
- Dinamika Muhammadiyah
- Dinamika Muslim
- Dinamika Nahdhatul Ulama
- Dunia Bisnis Muslim
- Dunia Ekonomi Syari'ah
- Dunia Informasi Teknologi
- Dunia Nasyid
- Dunia Politiks
- Harian Republika
- Inspirasi Dunia Dakwah
- Islam Memandang
- Kabar Dunia Hari Ini
- Kajian Muslimah
- Majalah Gatra
- Majalah Gontor
- Majalah Hidayatullah
- Majalah Islamia
- Majalah Sabili
- Maraji' Dunia Elektronik
- Maraji' Dunia Outomotif
- Meadowvale Islamic Center (America)
- Moslem America Conclusion
- Moslem European
- Muslim Alliance of North America
- Our Dien
- Pengembangan Pengetahuan
- Talkshow Mario Teguh SC
- Talkshow Wisata Hati
- Training ESQ way 165
- Warta Buku-buku Islam
- Warta Insiklopedia Islam
- Www. al-habib.info 4 muslim blogger
Tema Kita
- Amar ma'ruf dalam politik
- Belajar Hidup
- Berbagi oleh-oleh dari Guruku
- Buktikan kita mampu
- INFO ANYAR
- Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un
- Lillahi ma fissamawaati wa ma fil ardh
- Mencermati fenomena negatif
- Nasehat dan Pengarahan
- Rasan-rasan
- Saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran
- Saling mengingatkan
- Sambutan Tahun Baru Hijriyah
- Santri: Poros kekuatan Umat Islam
- Sebentuk kemunafikan dan kemusyrikan
- Sebuah Gagasan untuk Kita
- Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe
- Sikap yang terbaik
- Uji potensi negara-negara Islam

