QALBU  

Posted by IKPM SOLO RAYA

Akhir-akhir ini pendidikan disoroti sebagai terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau spiritualistis sehingga nampak tidak rasional.

Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian. Ia meliputi seluruh aspek dalam diri manusia. Tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis. Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal: pertama letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, bagaimana menanamkan itu semua kedalam diri manusia. Sistim apa yang cocok untuk pengembangan anak dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistim pendidikan yang terpadu, perlu dipikirkan terus menerus dan seksama.

Namun, sebelum berfikir tentang metode atau sistim perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu. Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.

Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul Bayan al-Farq, Bayn al-Sadr,wa al-Qalb,wa al-Fuad wa al-Lub. (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar), Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran). Istilah-istilah sadr yang dalam bahasa Indonesia menjadi sadar-kesadaran ternyara berbeda artinya dari istilah qalb, hati atau kalbu. Fuad yang di Indonesiakan menjadi nurani berbeda lagi dari lubb yang arti sebenarnya adalah akal pikiran yang berimana. Ulul Albab adalah orang yang berakal fikiran tauhidi.

Namun itu semua merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang di bedah dadanya tentu sadr, qalb, fuad dan lub itu tidak akan ditemukan secara fisik. Maka dalam buku ini Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa hati atau qalb itu adalah nama yang komprehensif yang kesemuanya bersifat batiniyah alias tidak zahir alias tidak empiris.

Sadr ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata di dalam mata. Sadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk kedalam sadr dan bukan kedalam qalb. Akan tetapi sadr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata sadara (muncul), atau sadr (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).

Jika sadr ada di dalam qalb maka qalb itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa. Namun, qalb itu adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan.

Sebagai raja qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka di dalam qalb itu pun terdapat ilmu.

Jika qalb (hati) itu adalah mata maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berfikir maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada ditengah-tengah hati, sedangkan hati ditengah-tengah sadar.

Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan sadr tempa cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah maka lubb berkaitan dengan cahaya ketauhidan.
Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent. Tapi memang proses berfikir demikian adanya. Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana ilmu didapat akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman. Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim Tirmidhi diatas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang. Wallau a’lam

Written by Hamid Fahmy Zarkasyi

Solo Raya - Suatu organisasi tanpa gerak dan kegiatan adalah sebuah wadah tidak bermakna, jangankan mengambil manfaat darinya bahkan untuk mempertahankan eksistensinya pun akan terasa sia-sia. Ungkapan ini bukan berasal dari organisator ulung atau nara sumber yang kadar intelektualitasnya tinggi, akan tetapi berasal dari hati nurani kita yang merupakan guru jiwa pejuang.

Kehidupan yang telah terbingkai oleh atmosfer yang pragmatis-materialis ini kadang-kadang membuat kita sesak dalam bernafas, jika tidak pandai kita memahamkan ajaran agama kita akan dianggap membual, terlebih jika pemahaman kita kurang mendasar maka semuanya hanya akan dianggap sebagai sebuah nyayian.

Ikhwan akhwat sekalian, bekal yang telah kita miliki memang belum cukup untuk melangkah dan berkecimpung dalam berbagai laga akan tetapi kita harus mengamalkan yang sedikit itu secara maksimal, maka dalam kondisi kita saat ini yang terbenturkan oleh beberapa problema dalam berorganisasi hendaknya kita menyuguhkan hal yang baik kepada umat ini, memberikan tauladan yang baik kepada generasi kita.

"Urunan Ide/iuran pemikiran" adalah kata yang tepat untuk membentuk dan menjalankan sebuah organisasi. Sebab dengan adanya sumbangan ide maka organisasi seperti IKPM kita ini akan berkembang, yang tentunya harus didukung dengan komunikasi yang baik antara sesama aktivis yang berkecimpung didalamnya dengan saling mengedepankan rasa tanggungjawab dan kedewasaan, karena rasa tanggungjawab dan kedewasaan inilah yang dijadikan salah satu tolak ukur bagi kemampuan kaum terpelajar dalam berorganisasi.

Maka ikhwan-akhwat sekalian dalam hidup berorganisasi menurut agama kita bukanlah siapa yang lebih unggul dan lebih bisa sendiri, akan tetapi mari kita duduk, berdiri, bergerak dan lari sama-sama untuk menggapai prestasi dalam memperjuangkan kehidupan umat ini.

Untuk itu semua marilah kita serap kembali Energi dari Al-Qur'an berikut ini:
  1. Taatlah kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantah, yang akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar (QS, Al-Anfal:46).
  2. Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang rapi bagaikan bangunan yang kokoh (QS, Shaf:4).
Pahami dan amalkan, insya Alloh kita akan selalu mendapatkan hidayah ketika kita membutuhkannya. Kembalilah kepada kedua ayat ini jika menemukan kebuntuan dalam bermufakat agar kita tetap bersama dan tetap selamat dalam perbedaan berpendapat.

Semoga kita termasuk bagian dari umat yang membawa manfaat dan bukan bagian dari mereka yang mendatangkan laknat, Na'udzubillahi min dzalik.(Thony)

ISLAM, TERORISME, dan H1N1  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Solo – Raya. Tidak aneh memang ketika bangsa ini mengalami banyak goncangan peristiwa kemudian Islam dijadikan objek sasaran dengan menunjuk-nunjuk hidung umat Islam untuk melampiaskan kekesalan, karena memang negeri ini dihuni oleh mayoritas umat Islam. Rasa-rasanya bangsa ini kurang bisa menyadari dengan baik apa yang sebenarnya terjadi dengan banyaknya peristiwa itu. Seberapa pun emosi seorang muslim jika ia memiliki pemahaman tentang agamanya secara baik dan benar tanpa dilebih-lebihkan, maka ia akan paham bahwa dalam Islam tidak ada anjuran untuk berbuat anarkis apapun alasannya.

Islam tidak mungkin akan melumpuhkan tatanan Negara Republik Indonesia yang dengan susah payah ia perjuangkan kemerdekaannya dari cengkraman kaum penjajah. Apakah kita telah melupakan hal itu? Sehingga dengan mudahnya menyebut Islam sebagai yang paling bersalah dalam peristiwa-peristiwa anarkis yang telah terjadi, padahal apa yang terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang Islam ajarkan.

Ikhwan/akhwat, lihatlah. Saat ini ada semacam nuansa kegalauan dihembuskan oleh pihak yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab. Dengan satu tujuan untuk kembali melemahkan sinergi umat ini - sebagai umat yang berkarakter dan punya identitas - dalam berbagai bidangnya terutama di negeri ini yang mulai menampakkan kemajuannya yang luar biasa dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan social-masyarakat, yang menjadi proyek percontohan kawasan Asia Tenggara dan Dunia Internasional dalam hal-hal yang kami sebutkan tadi.

Paling tidak ada tiga hal yang patut kita cermati dari sekian banyak instrument kegalauan yang sengaja digulirkan dalam komunitas umat ini:

Pertama; Orientasi perjuangan umat pada bidang politik tidak terarah dan tidak fokus. Entah disengaja atau tidak dalam hal politik umat ini telah terkotak-kotak, terpecah, dan tersekat, dalam partainya masing-masing yang berakibat tidak bisa bersatunya kekuatan umat, bahkan hanya untuk sekedar memenangkan PEMILU 2009 sekalipun. Ini adalah berita yang amat sangat menyedihkan, karena kita adalah umat mayoritas. Tapi kita harus hadir sebagai solusi disini, kita harus berbuat untuk keluar dari fenomena ini dan bersatu kembali demi kemajuan di masa yang akan datang, bukan membahas yang telah berlalu kecuali hanya untuk mengevaluasi.

Kedua; Islam menjadi objek utama berkaitan dengan tindakan terorisme diberbagai negara. Sejak beberapa tahun silam isu tentang terorisme yang mengobok-obok umat ini telah dilancarkan untuk memecah konsentrasi umat dalam menjalankan syari’atnya tanpa hasil yang signifikan, saat ini umat ini dalam ranah dan wilayah yang sama diserang lagi dengan isu tersebut, padahal pelakunya sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh pemegang aspirasi umat. Disini terdapat ketidakadilan Media dalam memberitakan aksi teror tersebut, seolah-olah Bom yang meledak itu adalah kehendak umat Islam, kehendak Instansi atau Lembaga Pendidikan yang berbasis Islam, seperti Ponpes Ngruki dan beberapa Lembaga Pendidikan Islam lainnya, padahal Islam sendiri berkali-kali menyatakan sikapnya yang tegas dan jelas tentang peristiwa yang menimpa bangsa ini, dan sebenarnya tidak perlu lagi Islam didekte untuk memahami makna Jihad dan bedanya dengan Teror oleh siapapun dan dimanapun. Seharusnya Media lebih cerdas dalam membaca semua ini, sehingga Media tidak mendapatkan image buruk yang hanya mancing di air keruh dengan wacana-wacana basinya, ditengah-tengah keprihatinan umat.

Ketiga; Dramatisir Virus H1N1, sebagai alat untuk memecah belah persatuan umat. Islam ini adalah sebuah agama yang amat sangat ’arif, selalu menganjurkan umatnya untuk selalu hidup dalam kebersamaan bukan saja dalam hal beribadah, akan tetapi dalam menghadapi segala tantangan zaman. Komunitas hidup berjama’ah ini tersimbolkan oleh Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam yang berangkat dari kultur yang berupa Pesantren. Itu berarti Ponpes adalah jantung dan nadi umat Islam. Sementara kalangan yang memusuhi Islam tentunya telah menganalisa ini semua kemudian merancang banyak misi, jika gagal dengan satu misi maka misi lain bolehlah dicoba. Adanya isu tentang wabah H1N1 ini bagaikan tambahan energi yang bisa dimodifikasi untuk membuat pusing dan memecah persatuan umat. Jika diekspose besar-besaran berita tentang banyaknya Ponpes yang diperkirakan terjangkit H1N1, maka tentunya umat yang telah hidup dalam atmosfir pragmatisme ini tidak mau lagi menganjurkan putra-putrinya untuk menuntut ilmu agama di Pesantren, dengan begitu lemahlah Islam di negeri ini pada beberapa masa yang akan datang, dan masuklah skenario musuh Islam ke negeri ini tanpa ada yang menghalangi lagi, Na’udzubillah min dzalik.

PR kita saat ini adalah memahamkan kepada umat Islam bahwa apa yang terjadi merupakan ujian Allah Swt atas keimanan kita. Sudahkah kita menjadi umat yang benar-benar beriman, atau beriman ketika kita berada di Masjid saja?. Jangan sampai kita lemah dengan banyaknya ujian yang kita hadapi, semakin kuat kita bertahan maka semakin banyak hikmah yang kita dapatkan, semakin banyak hikmah yang ada pada diri kita maka semakin meningkat pula derajat kita dihadapan makhluk dan dihadapan Allah Swt.

Dengan satu catatan bahwa Islam tidak akan pernah binasa dengan musim susah yang berkepanjangan dan tidak pula karena bencana, akan tetapi Islam akan binasa apabila umat ini mulai retak dan pecah. Sebagaimana Rasulullah dalam sebuah riwayat yang dibawakan Amir bin Said, Bersabda: ”Aku telah memohon kepada Allah Swt tiga perkara, dalam tiga perkara itu ada dua permohonan yang dikabulkan dan yang satu ditolak; 1.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berkepanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 2.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh A.S). Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 3.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan pergaduhan (percekcokan/perpecahan/peperangan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku ini tidak diperkenankan (telah ditolak) oleh Allah Swt.”

Demikianlah Ikhwan/akhwat, semoga banyaknya peristiwa yang mengasah keimanan kita ini bisa menghantarkan kita menuju derajat Taqwa.(Thony)

Derap Langkah Kegiatan Kita  

Posted by IKPM SOLO RAYA


Solo Raya - "Tiada hari tanpa kesibukkan, tiada organisasi tanpa kegiatan." Dengan motivasi ini kita akan selalu terpacu untuk meraih yang terbaik, pelan tapi pasti (Alon-alon wathon kelakon/red.jowo) menjalankan kegiatan yang tak henti-henti. Mudah-mudahan semua itu menjadi semboyan IKPM Gontor cabang Solo Raya (IKPMG SR) dalam berjuang li I'laai kalimaatillah (Meninggikan ajaran Allah Swt).

Tahukah ikhwan/akhwat sekalian, bahwa setelah sukses dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan sebelumnya, tidak lama lagi IKPM kita ini akan melaksanakan beberapa kegiatan. Ada yang secara langsung dilaksanakan dan diprakarsai oleh Pengurus IKPMG SR, dan ada juga yang bersifat partisipatif.
Kegiatan yang secara langsung akan dilaksanakan oleh IKPMG SR bekerjasama dengan Universitas Syahid Surakarta adalah: Seminar Nasional "Refitalisasi Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Berkualitas dan Terjangkau oleh Rakyat", yang rencananya akan di selenggarakan di Universitas Syahid Surakarta, pada hari: Senin, Tanggal: 20 Juli 2009 mendatang. Insya Allah seminar ini akan diisi oleh para nara sumber yang benar-benar berkompeten dalam dunia pendidikan naisonal, antara lain: Dr.KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Prof. Dr Furqon Hidayatullah, M.Pd. (Ketua Tim Sertifikasi Guru se-Surakarta), serta Dr H Sulistiyo MPd (Ketua Umum PGRI, Jakarta). Bagi yang berminat agar secepatnya menghubungi: Sdr. Imam Muqoyyadi dengan No Hp: 081393330301.




Adapun kegiatan yang bersifat partisipatif adalah Penyelenggaraan Perkemahan Akbar Tingkat Sekolah Dasar se-Pulokarto, yang pesertanya insya Allah terdiri dari sekitar 25-100 kontingen. yang akan dilaksanakan di wilayah Pulokarto-Sukoharjo. Kegiatan ini berupa kegiatan pendampingan perkemahan yang diselenggarakan oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu Mardhatillah (SDIT Mardhatillah) yang melibatkan beberapa rekan dari pengurus IKPMG SR. rencananya dalam kegiatan perkemahan ini akan melibatkan Bapak Bupati Sukoharjo sebagai partisipan dan beberapa pihak dari tokoh masyarakat sebagai panitia. Dengan perpaduan antara Lembaga Pendidikan, Pengurus IKPM SR, Instansi Pemerintah, serta Masyarakat, diharapkan semua berjalan baik dan mencapai hasil yang maksimal.
Demikianlah Ikhwan/Akhwat sekalian semoga info ini bermanfaat, selamat berjuang. Semoga kita selalu diberi petunjuk dalam melangkah, amin. (Thony/operator)

Virus Dualisme  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

Dalam sebuah acara talk-show di sebuah stasiun TV Inggeris tahun 90 an ditampilkan isu pelacuran. Panelisnya pendidik, pastur, tokoh masyarakat dan beberapa pelacur. Hampir semua menyoroti profesi pelacur dengan nada sinis. Pelacur adalah sampah masyarakat. Pelacur mesti dijauhkan dari anak-anak. Merusak adat kesopanan sosial, dan seterusnya.

Tapi yang menarik giliran pelacur angkat bicara. "Saya memang pelacur. Dan saya melakukan ini karena saya janda. Saya menjalani profesi ini untuk menghidupi tiga orang anak saya. Kalian boleh saja mencemooh. Tapi siapa yang perduli jika anak-anak saya kelaparan, siapa! Siapa!" ia berteriak lantang. "Supaya kalian semua tahu, lanjutnya, saya memang pelacur tapi hati saya tetap suci". Hadirin pun bersorak.


Nampaknya orang bersorak bukan karena ia pelacur, tapi karena ia dualis. Menjadi pelacur dan merasa suci. Dua sifat yang kontradiktif. Yang saya heran justru mengapa mereka bersorak. Sebab doktrin dualisme sudah lama berakar di dalam pemikiran Barat. Asal usul terdekatnya adalah filsafat akal (philosophy of mind) yang digemari Descartes, Kant, Leibniz, Christian Wolf dan lain-lain. Menurut Christian Wolff misalnya "The dualists (dualistae) are those who admit the existence of both material and immaterial substances," tapi wujud materi dan jiwa tepisah. Pengertian ini disepakati Pierre Bayle dan Leibniz.

Bahkan konon Barat mewarisinya dari kepercayaan Zoroaster (1000 SM) di Timur. Dunia dianggap sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Thomas Hyde menemukan doktrin ini dalam sejarah agama Persia kuno (Historia religionis veterum Persiarum, 1700). Doktrin Zoroaster diwarisi oleh Manicheisme dan diramu dengan dualisme Yunani. Tuhan akhirnya dianggap sebagai person dan juga materi.

Bagi orang Mesir kuno Re adalah tuhan matahari simbol kehidupan dan kebenaran. Lawannya adalah Apophis lambang kegelapan dan kejahatan. Deva dalam agama Hindu adalah tuhan baik, musuhnya adalah asura tuhan jahat. Di Babylonia peperangan antara Marduk dan Tiamat adalah mitos yang mewarnai worldview mereka. Mitologi Yunani selalu menampilkan peperangan Zeus dengan Titans. Di Jerman perang antara Ases dan Vanes, meski berakhir damai.

Dalam filsafat, Pythagoras adalah dualis. Segala sesuatu diciptakan saling berlawanan: satu dan banyak, terbatas tak terbatas, berhenti-gerak, baik-buruk dsb. Empedocles setuju dengan Pythagoras, baginya dunia ini dikuasai oleh dua hal cinta dan kebencian. Plato dalam dialog-dialognya memisahkan jiwa dari raga, inteligible dari sensible.

Tapi apakah dualisme itu benar-benar realitas? Atau sekedar persepsi yang menyimpang? Sebab nilai-nilai monistis (kesatuan) dalam realitas juga ada dan riel. Heraclitus dan Parmenides mengkritik dualisme Pythagoras. Banyak itu itupun berasal dari yang satu yang abadi. Yang dianggap saling berlawanan itu sebenarnya membentuk kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Aristotle ikut-ikutan. Dualisme Plato juga tidak benar. Jika jiwa diartikan bentuk (form) dari raga alami yang berpotensi hidup maka jiwa adalah pasangan raga. Jadi jiwa dan raga adalah suatu kesatuan. Tapi Aristotle ternyata masih dualis juga. Ia memisahkan akal dari jiwa.

Dalam kepercayaan kuno pun unsur monisme juga wujud. Marduk ternyata turunan dari Tiamat. Zeus dan Titan berasal dari moyang yang sama. Leviathan ternyata diciptakan Tuhan. Pemberontak Mahabharata adalah dari keluarga yang sama. Dalam agama Zoaraster, kebaikan selalu dinisbatkan kepada Ahura Mazda atau Ohrmazd sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahra Mainyu atau Ahriman. Tapi dalam kitab Gathas, kebaikan dan kejahatan adalah saudara kembar dan memilih salah satu karena kehendak.

Para pemikir Kristen mulanya memilih ikut Plato, tapi mulai abad ke 13 mereka pindah ikut Aristotle dengan beberapa modifikasi. Di zaman Renaissance dualisme Plato kembali menjadi pilihan. Tapi pada abad ke 17 Descartes memodifikasinya. Baginya yang riel itu adalah akal sebagai substansi yang berfikir (substance that think) dan materi sebagai substansi yang menempati ruang (extended substance). Teori ini dikenal dengan Cartesian dualism. Tujuannya agar fakta-fakta didunia materi (fisika) dapat dijelaskan secara matematis geometris dan mekanis. Kant dalam The Critique of Pure Reason mengkritik Descartes, tapi dia punya doktrin dualismenya sendiri. Pendek kata Neo-Platonisme, Cartesianisme dan Kantianisme adalah filsafat yang mencoba merenovasi doktrin dualisme. Tapi terjebak pada dualisme yang lain.

Perang antara monisme dan dualisme, sejatinya adalah pencarian konsep ke-esaan-an (tawhid). Peperangan itu digambarkan dengan jelas oleh Lovejoy dalam bukunya The Revolt Against Dualism. Fichte dan Hegel, misalnya juga mencoba menyodorkan doktrin monisme, tapi bagaimana bentuk kesatuan kehendak jiwa dan raga, tidak jelas. Nampaknya, karena arogansi akal yang tanpa wahyu (unaided reason) maka monisme tersingkir dan dualisme berkibar. Jiwa dan raga dianggap dua intitas.

Seorang dualis melihat fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait satu sama lain, karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci. Atau sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik dan raga pasti jahat. Padahal dari jiwalah kehendak berbuat jahat itu timbul. Dalam Islam kerja raga adalah suruhan jiwa (innama al-a'mal bi al-niyyat). Karena itu ketulusan dan kebersihan jiwa membawa kesehatan raga.

Dualis dikalangan antropolog pasti memandang manusia dari dua sisi: akal dan nafsu, jiwa dan raga, kebebasan dan taqdir (qadariyyah & jabariyyah). Dalam filsafat ilmu, dualisme pasti merujuk kepada dichotomi subyek-obyek, realitas subyektif dan obyektif. Kebenaran pun menjadi dua kebenaran obyektif dan subyektif. Bahkan di zaman postmo kebenaran ada dua absolut dan relatif. Dalam Islam konsep tawhid inherent dalam semua konsep, tentunya asalkan sang subyek berfikir tawhidi.

Nampaknya doktrin dualisme telah memenuhi pikiran manusia modern, termasuk pelacur itu. Pernyataan pelacur itu tidak beda dari dialog dua sejoli dalam film Indecent Proposal, "I slept with him but my heart is with you". Seorang dualis bisa saja berpesan "lakukan apa saja asal dengan niat baik". Anak muda Muslim yang terjangkiti pikiran liberal akan berkata `jalankan syariah sesuka hatimu yang penting mencapai maqasid syariah". Kekacauan berfikir inilah kemudian yang melahirkan istilah "penjahat yang santun", "koruptor yang dermawan", "atheis yang baik", "Pelacur yang moralis", dan seterusnya. Mungkin akibat ajaran dualisme pula Pak Kyai menjadi salah tingkah dan berkata "Hati saya di Mekkah, tapi otak saya di Chicago". Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya.
___________________________________________________________________

Solo Raya
- Ikhwan/akhwat, ada baiknya kita merenung sejenak di antara hiruk-pikuk dan kepenatan hidup ini, untuk sekedar kembali membetulkan posisi sholat kita, ibadah kita, langkah-langkah dalam aktifitas keseharian kita agar tetap berada dalam Aqidah yang Salimah. jadikanlah diri kita ini generasi yang cerdas membaca kebenaran di antara sekian banyak hal yang salah, baik dari sisi paradigma pemikiran maupun pada aplikasi atau penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tulisan diatas adalah ulasan salah seorang dosen kami tentang dualisme pemikiran yang menggejala pada sosial masyarakat kita yang tampaknya perlu kita pikirkan, kita carikan solusinya, serta kita Islah bersama.

Tahap yang paling sederhana untuk memperbaiki kondisi setelah di acak- acak oleh Dualisme pemikiran adalah dengan menelaah ulang kitab-kitab Aqidah Salimah dan mengamalkannya secara benar, serta berusaha menambah endapan-endapan keyakinan kita dengan menelaah kembali kebesaran Allah Swt disekitar kita. Karena banyak kenyataan telah terpampang dihadapan kita, bahwa generasi umat ini telah dikaburkan oleh banyak wacana dan penjelasan secara langsung maupun tidak langsung tentang ajaran Islam dari pihak-pihak yang dianggap sebagai 'publik figur' padahal bukan kapasitas mereka untuk menjelaskan hal-hal yang i'tiqadi (bersifat keyakinan).

Dalam keadaan semacam ini, maka peluang kita untuk berda'wah amat sangat luas. Bukalah kembali pemahaman mereka tentang kebenaran Islam, dan jangan biarkan mereka teracuni oleh kesalahan-kesalahan berpikir. Agar Allah SWT akan selalu melindungi kita. Allahu Akbar. (operator/Thony)