Tahun Baru Islam  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

KENAPA MEREKA TIDAK MENYUKAI ISLAM?
Hasan Abdullah Sahal*
Berbicara tentang banyaknya orang yang tidak menyukai Islam tidak terlepas dari sejarah munculnya Islam itu sendiri di tengah-tengah kultur dan struktur Poleksosbud yang mengitari. Jahiliyah dalam pandangan; fikiran, dalam tindakan; perbuatan, dan dalam ketuhanan; agama.
Pandangan manusia terhadap yang hidup dan kehidupan saat itu sangat jauh dari fitrah manusia, sedangkan Islam adalah agama fitrah. Di antara fitrah manusia adalah bahwasanya fitrah manusia itu bebas, setuju dengan haq, anti terhadap kebathilan, sama derajat sesamanya, di bawah kekuasaan kekuatan ghaib yang tak terjangkau oleh akal manusia.
Menurut sejarah yang autentik, ayat yang pertama diturunkan adalah iqro’, tapi sebenarnya ayat-ayat kauniyah dan ijtimaa’iyah (native dan sosial) sudah dapat dibaca.
Rasul sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) yang ma’shum dari segala perbuatan yang bathil (tidak benar), biografinya menjadi saksi hingga perintah iqro’ dapat diterima oleh kultur yang ada.
Fitrah manusia itu ingin tahu penghalang fitrah ini, menyalahi fitrah! Iqro’ membuka jalan atau pintu, pengetahuan (ilmu) dan berpijak pada itulah Islam dapat muncul. Apalagi di tengah-tengah manusia yang berjalan pada fitrah. Contoh, manusia diciptakan dari unsur jasmani dan rohani, sedang Islam sesuai dengan itu. Dan Islam sesuai dengan fitrah mengakui tauhid (mensatukan Tuhan), ajaran Islam pun demikian. Tapi, setelah mengalami perubahan-perubahan tata sosial, fitrah itu tenggelam tak tampak bahkan ditentang. Apalagi oleh muka yang sudah terpaku dengan kultur tradisi yang rusak. Lebih-lebih bagi yang telah mengenyam “enak”nya berada dalam kultur itu yaitu tokoh-tokoh jahiliyah.
Biasanya, suatu fikiran baru mendapat tantangan (tanggapan reaksi negatif) dari masyarakat karena takut akan hal-hal yang kurang mereka setujui, umpamanya kehilangan keenakan yang mereka capai. Apalagi jika ia datang dari seseorang yang masih muda, ia dianggap belum tahu apa-apa. Ini adalah ciri-ciri masyarakat terbelakang yang statis (jumud) tidak mau maju. Kultur ini jahiliyah dalam nilai kemanusiaan dan kehidupan. Ditilik dari lahiriyahnya, zaman adalah zaman kemajuan ilmu, kehebatan manusia, dan lain sebagainya. Apabila ia diimbangi, dibarengi, ditunjang oleh nilai-nilai positif tentang native, manusia dan kehidupan bersumber pada Islam, sebagai agama yang mendukung dan didukung oleh fitrah karena ia adalah agama fitrah, maka keadaan akan menjadi nyaman, aman dan harmonis. Tapi sayang, yang terjadi malah kemerosotan derajat manusia, mengarah pada kebinatangan dan atau kebendaan.
Oknum-oknum yang berada di tengah-tengah zaman inipun ubahnya seperti oknum-oknum yang hidup di tengah-tengah jahiliyah itu. Bila diteliti, orang-orang yang mewarisi sifat-sifat Abu Jahal, Abu Lahab, Abdullah bin Ubay dan lain-lain cukup banyak. Bahkan Fir’aunpun tidak sedikit, karena mereka hanya menyembah hina dan lapar tidak dapat menjadi sumber produksi (materi).
Pandangan-pandangan terhadap hak-hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan, persis zaman jahiliyah. Manusia hanya menjadi khadim, budak, buruh, pembantu orang-orang yang bertahta dalam masyarakat. Wanita hanya dipendam kehormatannya, dikubur kewanitaannya menjadi hidangan-hidangan lezat orang lain atau dipajang dalam etalase-etalase pedagang-pedagang mode pakaian; dikomersilkan. Di dalam hati, mereka pedih. Tetapi, gemerlapan sinar-sinar mengharuskan mereka tersenyum. Perang di dalam jiwa, di balik cahaya, di belakang layar yang pastinya mereka ngeri dan malu. Harga dirinya dijual sebagai boneka mainan yang dapat ditawar.
Timbul pertentangan dalam diri, antara keyakinan kepada Allah, ketentraman jiwa dan kesejahteraan hidup (IMAN, AMAN, dan UMAN). Harapannya sia-sia mencapai ketiga-tiganya, dipaksa dan terpaksa mengorbankan satu atau dua di antara tiga. Bahkan tiga-tiganya bisa-bisa habis musnah ditelan umur, ditunggu liang kubur.
Apa yang terjadi pada wanita-wanita tak berbeda dengan yang dialami oleh pria yang telah ditelanjangi, diperkosa hak-hak asasinya, dengan cara menuruti kabilah ataupun pejabat-pejabat teras jahiliyah itu. Kalau tidak, pasti akan menerima akibat yang lebih fatal dalam hidupnya. Hilang “iman”, “aman” dan “uman”.
Lapisan bawah, golongan proletar menyembah berhala-berhala menukikkan kepala bersujud di telapak kaki golongan atasan, meskipun tahu bahwa mereka sendirilah yang melukis, memahat dan memasangnya sedang berhala-berhala berpangkat itu sama derajatnya dengan mereka.
Hati berontak, perang dalam diri mereka, mana yang harus dijual? Kehormatannya? Keimanannya? Identitasnya? Kebodohan meliputi segala segi akhirnya mengorbankan dirinya, mencorang-coreng hatinya dengan pulasan yang palsu dan kotor.
Ilmu pengetahuan tidak berarti, tidak berfungsi, diinjak-injak telapak penguasa jahiliyah. Kini ilmu dimiliki nasibnya, kalah dengan harta dan senjata. Ijazah tidak dapat dibeli dengan materi, tapi “orang berijazah” dapat dibeli seharga kursi. Ilmiahnya berubah menjadi kursiologi (ilmiah kursi) atau cara berfikirnya menjadi cara berfikirnya burung beo atau kuda pedati. Perang berkecamuk pada diri mereka, antara misi, kursi dan nasi: risalah ilmiyah, jabatan tahta, atau kesejahteraan keluarga.
“Objektifitas pengetahuan menjadi kabur, luntur atau larut karena “maksud” atau “takut”. Itu sama saja dengan jahiliyyah 100%. Ada di antara kita bertanya-tanya: Lupakah Tuhan Allah waktu itu? ÓõÈúÍóÇäó Çááåõ
Lupakah Tuhan Allah sekarang itu?ÓõÈúÍóÇäó Çááåõ
Tidak, masih ada kesempatan untuk rethinking, berfikir kembali mencari dan menemukan lantas bertaubat. Saat itulah datang rahmat Allah untuk alam semesta. Manusia biasa dari keturunan (nasab yang terhormat, terjaga dari dosa dan noda) yang nantinya akan memimpin “Dunia” secara radikal revolusioner. Muhammad SAW diutus untuk menjadi pelopor, perintis, pendobrak kebathilan dan kejahilan.
Bukannya kita ini, di zaman ini menaruh pengharapan agar Rasulullah SAW turun kembali, juga tidak memesan kitab Al-Qur’an yang baru lagi. Karena kandungan Al-Qur’an itu abadi, kekal sepanjang masa untuk tempat kembali bagi persoalan-persoalan dunia dan dengan sunnatullah sebagai pendamping.
Tanpa dua itu dunia akan selalu berkeping-keping benjol dan brengsek. Bilamana fungsi/peran Islam terlebih ibarat biola dalam suara kelima, niscaya suaranya takkan mempengaruhi baik buruknya simponi; atau, apabila ajaran Islam hanya ibarat suara penonton kelas tiga sedang menyaksikan pertikaian penonton-penonton Tribun dan VIP karena wasit goblok atau susunan permainan yang tak bermutu.
Kita hanya sebagai penggesek suara nomor lima namun diminta, dituntut memperbaiki kesumbangan atau kepalsuan nada lagu dalam simponi yang acak-acakan kacau dan kedodoran. Kita hanya sekedar jadi penonton pertandingan si kelas jembel, dipaksa untuk meleraikan bapak-bapak kita yang bercakar-cakaran, berlempar-lemparan kursi-kursi (hasil tribun stadion dan VIP dan hasil jualan karcis kelas jembel). Tidak mungkin berhasil usaha kita kecuali ada kesadaran mendalam kemantapan hukum bersumber pada keyakinan yang membesar dengan tujuan keharmonisan yang nyaman dan hakiki lahiriyah.
Islam bukan memperbaiki alat atau warna yang tidak serasi. Ia mengembalikan segala sesuatu pada fungsi dan posisi yang tepat. Berani bersuara lantang meskipun sendirian tidak sekedar membeo, menjadi loud speaker pengeras atau semacamnya. Biarpun sinarnya jauh dari keramaian dan aneka lampu, tapi ia adalah sumber cahaya di seluruh dunia. Pohon Islam mengakar dalam hati nurani. Tak bisa dipecat dan tak dapat diusut. Akar itulah yang mendasari semua yang tumbuh (berada) di atas bumi dan juga sebagai pusat yang menghidupi. Islam bukan benalu yang hanya menyandarkan diri pada rizqi tumbuhan lain meskipun saat ini banyak ummatnya yang menjadi benalu.
Jauhnya masa turunnya Islam dari masa ini mendangkalkan ajaran Islam pada pemeluknya. Ini mungkin terjadi. Apalagi tempat berpijak pendukungnya terlalu lemah, maka rumah lebah yang mudah putus dan mudah roboh menjadi tempat berlindung. Dengan seribu satu alasan, peran kebanyakan umat ibarat layang-layang dari daun gadung, dikendalikan dari bawah dengan benang rapuh, diterbangkan, dilayangkan ke angkasa ditepuki, disoraki, dipuja-puji, dirangsang, dirayu agar menari-nari, tertawa, tersenyum yang pada hakikatnya diombang-ambingkan angin dari kanan kiri. Sewaktu-waktu benang bisa diputus, sewaktu-waktu ia diturunkan kembali ke tanah atau disangkutkan pada pepohonan. Apabila rusak atau sobek betapa mudah bagi pemiliknya atau manusia mencari yang lain, betapa murah membeli benang baru. Tuhan mau dibuat dan diatur, agama Tuhan hendak dibengkok-bengkokka n. Terkadang Tuhan digambarkan ibarat seseorang yang berkain sarung dan berkopiah hitam, terkadang seseorang yang berjubah putih dengan sorban atau seseorang yang ber-ruku’ pada suatu salib, terkadang dilukiskan pula sebagai kuda berkepala singa dan lain sebagainya. Subhaanallah… Subhaanallah!. Sisa-sisa ajaran ketuhanan tinggallah khurafat-khurafat, takhayul-takhayul yang sengaja diperuntukkan peribadatan pengabdian. Dari sana dimohon ilham, dari sana dimintai restu, dari sana ideologi falsafah hidup dicanangkan.
Untuk mengabadikan kekayaan dan kedudukan, mereka mengadakan perayaan-perayaan, hari-hari besar, peringatan-peringat an agar dapat menyerap hasil materiil sepuas-puasnya, dari itu pula mereka menyedot hasil-hasil bumi kekayaan orang banyak.
Karena persoalan ketuhanan adalah prinsip, maka Islam membina manusia dan pandangannya agar bersih dari Tuhan-tuhan palsu. Tuhan Allah tidak berbentuk apapun atau masuk/menyusup dalam makhluk-makhluk bernyawa maupun benda-benda alam. Suatupun tak menyerupai Allah, Diapun tidak menyerupai sesuatu. Kata-kata ini dipertaruhkan Rasulullah hingga bertaruh nyawa, kompromi, menolak komisi, sogok suap atau hadiah meski sebesar matahari plus bulan. Keyakinan iman inilah yang memisahkan haq dari yang bathil. Tidak ada Tuhan, Sesembahan, Anutan, Penguasa Hukum, Pemelihara selain Dia. Dia Yang Maha tinggi dan Tegak tak tertimpa rasa kantuk atau tidur, Pemilik Mayapada di langit, di angkasa, di jagat raya dan di bumi, di sungai, di laut, di istana, di kolong jembatan, di sawah dan di penjara. Tak ada suatupun yang mendapatkan dispensasi keistimewaan yang Dia pilih sendiri, Dia kasih izin khusus, kepercayaan khusus untuk operasi khusus yaitu para rasul-rasul yang telah terseleksi dari jenis manusia biasa. Dia Yang Maha Tahu apa yang nyata dan rahasia, di depan layar maupun di belakang tabir, zaman dulu, kini dan yang akan datang, di depan pelupuk mata maupun di belakang punggung. Semuanya tak tahu dan tak mengerti ilmu Allah, ketinggian pengetahuan Allah karena kepicikan subjektifitas pengetahuan, kekotoran hati mereka, kesombongan- kesombongan, keterkurangan, keterbatasan, kelemahan, dan kemampuan mereka. Mereka hanya menerima seberkas sinar ilmu, sekedar pengetahuan sesuai kapasitas kemampuan atas kehendak Dia. Kursi singgasana istana-Nya mencakup langit dan bumi. Tak ada keberatan bagi-Nya memelihara, menjaga istana-Nya yang tinggi megah. Dialah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Pada saat itu, pada masa ini pula banyak Tuhan-tuhan palsu yang berkeliaran di jalan-jalan. Penguasa menjadi Tuhan, jabatan menjadi Tuhan, materi menjadi Tuhan, wanita cantik menjadi Tuhan. Milliu positif maupun negatif menjadi Tuhan. Mereka itu membuat, melaksanakan, dan menjalankan halal haram semau mereka. Pengikutnyapun menuruti apa yang dihalalharamkan Tuhan-tuhan palsu itu. Adapula yang menobatkan dirinya menjadi wakil Tuhan untuk menghukum atau mengampuni, berbuat sewenang-wenang, mencuri “kun fayakun” di tengah masyarakat, memonopoli kebenaran dan memonopoli surga.
Komunis-komunis bersorban, wereng-wereng berpeci bergentayangan mencari mangsa memperkuat kewibawaan, bersaing dengan kebesaran, keperkasaan, kekayaan Allah dan kemutlakan kekuasaan Allah. Tentu saja itu semua tidak mungkin, mustahil! Semakin tua manusia semakin lemah peyot; Allah dapat memusnahkan harta kekayaan mereka dalam sekejap mata.
Adapula yang akan mengatur kelahiran generasi baru. Wanita-wanita yang akan melahirkan anak-anak dibunuh, dipendam. Zaman ini, wanita-wanita didorong disuruh mendaftarkan diri dalam barisan anti beranak atau barisan beranak terbatas.
Datangnya Islam menyelesaikan persoalan, dininanya manusia, diarahkan pada fungsi yang sebenar-benarnya. Dibetulkannya pandangan manusia itu, diluruskannya cara berfikiran mereka sesuai dengan asas-asas diciptakannya manusia itu dan dikembalikannya umat manusia kepada kedudukan semula, yaitu kepada fitrah.
Pada awal mulanya, bukanlah berhala-berhala batu yang dihancurkan dan dirobohkan, bukan pula pabrik-pabrik khamr, meja-meja judi, lokal-lokal perzinaan, pusat-pusat maksiat dan lain sebagainya.
Sasaran yang prinsip adalah manusia dalam segala aspeknya, jasmaniah, rohaniah, akal, emosi dan segala menifestasinya. Dari hati, akal, fikiran, perasaan, daya tanggap (reaksi), daya pilih (seleksi), terjadilah sikap, sifat dan reaksi yang terwujud dalam perbuatan. Manusia yang baru dapat membedakan sikon (tradisi) yang rusak dan yang benar. Dia harus dapat menguasai keadaan dan bukan diatur oleh akalnya.
Gontor, December 29, '08

>>> gontorians

PESAN KYAI BUAT SANTRI  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Santriku…! Semoga tatkala pesan-pesanku ini mulai kau baca, hatimu masih benderang dengan cahaya rahmat Ilahi, hingga tak ada sebutir debupun melekat di hatimu, menutupi nuranimu untuk menerima secercah cahaya ini.

Santriku…ketahuilah! Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di seluruh jagat raya ini sudah diatur secara tertib oleh Allah. Tebarkanlah pandanganmu maka akan kau saksikan betapa indahnya paduan gunung, lembah, dan ngarai serta luasnya bentangan samudera. Juga matahari, bulan, bintang dan sejumlah gugusan planet lainnya, semua begitu indah dan tertib, tertata sesuai dengan kebijaksanaan- Nya. Maka, hendaklah manusia berusaha supaya menjadi tertib, dalam karsa, rencana, dan atau kehidupannya. Dan janganlah sekali-kali mencoba untuk memaksakan tertib programmu pada Allah. Sebab, jika kau lakukan itu, maka yang akan kau dapati hanyalah keresahan, pahitnya kekecewaan, pedihnya kehancuran, kecongkakan dalam kebodohan, kesombongan atas kesintingan dan kebanggaan lantaran kegilaanmu atau sebaliknya berlagak jagoan ekstra superioriti atau bertampang cakil menjual pepsodent. Dan penyakit inilah yang banyak melanda manusia di abad modern ini.
Santriku…seiring perjalanan waktu, suatu saat nanti kau akan meninggalkan pondokmu ini untuk terjun ke tangah-tengah kehidupan masyarakatmu kelak, berbaur dengan aneka ragam pola kehidupan. Harapanku, pandai-pandailah kau membawa diri berbuat baik di bumi mana kakimu berpijak. Selama ini aku memang menyaksikan bahwa kau telah berbuat baik, mentaati segala petuah dan nasehat kyaimu, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, namun yang aku khawatirkan adalah, jika kau berbuat semua kebajikan itu hanyalah di tengah-tengah milliu yang baik saja, sementara ketika kau telah terjun ke dalam milliu yang berlainan, jadi berubah keadaannya. Padahal, berbuat baik itu harus bisa kau lakukan di manapun dan kapanpun. Pada saat itulah kepribadianmu akan diuji, dan di situlah kepribadianmu akan dipecat atau dipertahankan oleh dirimu sendiri atau oleh masyarakatmu dengan segala norma-normanya. Itulah yang paling aku khawatirkan. Aku takut jika derasnya gelombang kehidupan di masyarakatmu kelak akan menyeret dan menjerumuskanmu ke lembah nista. Telah kau sadari bahwa orang baik yang bertempat sampah sekalipun akan berjasa dan mulia karena ia telah menyingkirkan sampah yang mengganggu masyarakat. Namun sebaliknya, orang yang jahat sekalipun bertahta di tempat terhormat ia adalah perusak dan pengacau masyarakat. Karena ia sebetulnya adalah sampah.
Santriku… ketahuilah! bahwa kini, di abad modern ini, setan-setan dengan segala bentuk dan macamnya telah bergentayangan di mana-mana dan untuk berkawan dengan mereka, kau tak perlu belajar ataupun berlatih. Dan godaan setan itu sungguh akan memikat hatimu. Ia tidaklah akan berhenti pada sasaran tertentu, golongan tertentu, dan juga waktu serta tempat tertentu. Maka berhati-hati dan waspadalah santriku terhadap itu semua. Janganlah sekali-kali kau mengira bahwa tingginya ilmu dan jabatan seseorang akan sekali tinggi pula godaan dan rayuan setan itu. Kyai dan ulamapun tak terhindar dari obyek dan setan-setan.
Santriku…! kuharap kau tak hanya bisa menerangi dirimu sendiri, tapi kau juga bisa menyinari umatmu dengan cahaya yang memancar dari ilmu-ilmu itu. Karena sesungguhnya tiadalah berguna ilmu seseorang itu jika tak dimanfaatkan bagi dirinya dan ummatnya. Do’aku semoga kau memahami seuntai pesan-pesanku ini. Amien.
Kyaimu
KH. HASAN ABDULLAH SAHAL

>>> gontorians: 12/27/08 4:59 PM.

Kesyukuran yang Produktif  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Solo Raya - Adalah sebuah pertanyaan yang menarik, pernah terlintas dibenak; "Kita harus sukses dulu atau merasa bahagia dulu?".
tentu pertanyaan ini mudah dijawab bagi yang mau menjawab sekenanya, akan tetapi jawaban dari pertanyaan ini bisa juga menjadi inspirasi yang menyadarkan kita untuk selalu bersyukur.
Tidak terlepas dari 'sukses' dulu atau 'merasa bahagia dulu', rasa syukur harus selalu membingkai keduanya. bagi kita para pejuang muda yang masih menyimpan semangat perjuangan 100% maka pasti akan banyak yang menjawab, "kita harus sukses dulu baru merasa bahagia". akan tetapi jika kita mencoba merinci dengan teliti dan menelaah dengan cermat, ternyata Jiwa yang selalu merasa bahagia bisa lebih cepat mencapai sukses dari pada mereka yang berjuang tanpa mengulum senyum di bibir sebagai pertanda kebahagiaan. Dan itu berarti bahwa, Rasa bahagia dulu yang hadir dalam jiwa baru setelahnya jiwa ini akan bergerak dengan penuh optimisme meraih sukses.
Kembali kepada hal bersyukur. Alhamdulillah, jika melihat kuantitas ternyata IKPM kita ini mempunyai potensi yang luar biasa, kita tinggal mencari alternatif untuk bergerak bersama sehingga komunitas kita ini menjadi sebuah komunitas yang berkualitas yang mampu mengolah dan mensinergikan potensi diri menjadi sebuah karya nyata yang bisa disumbangkan untuk kepentingan umat.
Ukhuwah dan Kebersamaan adalah sumber kekuatan yang tidak dipungkiri lagi, sejarah telah banyak membuktikan hal ini. maka dari itu saat ini adalah saat yang paling baik untuk memulai dan merintis bersama Gerakan-gerakan yang produktif dalam berbagai bidangnya; Keagamaan, Pendidikan, Sosial/kemasyarakatan, Budaya/peradaban, dan juga sains (Teknologi/Informasi/Komunikasi). Dan kini saatnya membina umat untuk menjadi tenaga-tenaga yang siap menciptakan lapangan pekerjaan dan bukan umat yang siap mencari kerja, agar kita bisa menjadi Kholifah dalam berbagai bidangnya di negeri kita yang tercinta ini.
Bukan saatnya lagi kita bertanya "Bagaimana kita memulai?", akan tetapi kini saat kita berbuat dengan aktivitas yang nyata, walau sekecil apapun aktivitas itu asal bermanfaat. Biar umat Islam merasakan manfaatnya, biar umat ikut bersyukur. (Operator/Thony)

foto kegiatan ikpm solo raya  

Posted by IKPM SOLO RAYA

proposal qurban  

Posted by IKPM SOLO RAYA

PENDAHULUAN

Qurban berasal dari kata qaroba, yang artinnya mendekatkan diri. Jadi yang dimaksud dengan qurban adalah mendekatkan diri, dan dalam konteks keislaman maknanya yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ibadah qurban juga mempunyai keutamaan yaitu pengampunan dari Allah, keridhaan Allah, amalan yang paling dicintai Allah pada saat hari raya 'Idul Adha, hewan qurban sebagai saksi dihari kiamat, dan mendapatkan pahala yang besar. Rasulullah SAW bersabda :
"Tak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban..." ( HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim )
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya:
supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (Q.S Al- Hajj 28)
Dengan dasar itulah maka Forum Silaturrahmi Angkatan Muda Gontor Surakarta (FOSAMTORA) berniat untuk mengadakan kegiatan penyembelihan hewan qurban dan bakti sosial dalam upaya pengembangan sosial kemasyarakatan yang berlandaskan syariat Islam.

NAMA KEGIATAN
"Ibadah Qurban dan Bakti Sosial Dalam Rangka Menyemarakkan Hari Raya Idul Adha"


TEMA KEGIATAN
"Aktualisasi nilai-nilai religius guna menambah rasa keimanan, ketaqwaan dalam meningkatkan kepekaan sosial".



TUJUAN
Tujuan dari proposal ini adalah :
1. Sebagai bentuk permohonan bantuan hewan kurban untuk perayaan Idul Adha 1428 H serta untuk membantu pembagian dan penyaluran hewan kurban.
2. Menjadikan moment ini sebagai media dakwah islamiyah dan bakti sosial
3. Membentengi akidah masyarakat Harjosumartan, Kel. Ngemplak, Ds. Sambon, Kec. Banyudono, Kab. Boyolali dari bahaya kristenisasi.

SASARAN
Sasaran dari permohonan hewan kurban ini adalah : kaum dhu'afa dan keluarga miskin masyarakat Harjosumartan, Kel. Ngemplak, Ds. Sambon, Kec. Banyudono, Kab. Boyolali

WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan ini insyaAllah akan dilaksanakan pada:
Hari : Ahad - Senin
Tanggal : 7 - 8 Desember 2008
Tempat : Harjosumartan, Kel. Ngemplak, Ds. Sambon, Kec. Banyudono, Kab. Boyolali

SUSUNAN PANITIA
Terlampir.

SUMBER DANA
1. Kas FOSAMTORA
2. Swasembada anggota FOSAMTORA
3. Sponsorship.
4. Sumber lain yang halal dan tidak mengikat.

ESTIMASI DANA
Terlampir

SUSUNAN ACARA


PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat untuk kerangka acuan dalam pelaksanaan Ibadah Qurban dan Bakti Sosial "Idul Adha". Atas kerjasamanya kami ucapkan banyak terima kasih, dengan pertolongan dan ridho Allah SWT semoga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan sukses sesuai dengan target dan tujuannya.

Keterangan lebih lanjut dapat menguhubungi cp: Ibrahim Arrasyid 085854011877

PANITIA PELAKSANA




Ibrahim Arrasyid
Ketua



Krisbowo Laksono
Sekretaris
Mengetahui,



Imam Muqoyyadi
Ketua FOSAMTORA


Drs M. Suprawi Dzuhri, M.Ag.
Ketua IKPM Surakarta





SUSUNAN PANITIA
PELINDUNG : IKPM Gontor cabang Surakarta
PENASEHAT : Drs. M. Suprawi Dzuhri, M.Ag.
H. Abdul Matin, Lc. M.Ag.
Drs. Imam Sukardi
KETUA : Ibrahim Arrosyid
Nazmi Hafidz
SEKRETARIS : Choirul Ahmad Tabiin
Krisbowo Laksono
BENDAHARA : Alfian Jalaluddin
Win Asep Ari Gayo
PENDANAAN : Imam Wicaksono
Syarif Hidayat
Ikhsan Rifa'i
Syahri Kurniawan
Azam
Wahyu Mardhotillah
Surya
Uswatun Khasanah

KORLAP : Muhammad Ali Ibrahim
Fathir Hanifa Husna
Taufik
Nashruddin
Hakim Azizi
Irwan
Irfan
PUBDEKDOK : Supriyanto
Yusuf
Syahadatain
Hakim B
TRANSPORTASI : Rasyid
Joko Roby Prasetyo
Hari Santoso
KONSUMSI : Syabibi
Faisol Amin



ESTIMASI DANA KEPANITIAAN BAKSOS

NO PENDANAAN NOMINAL
1 Kesekretarisan
a. Kertas HVS Rp 70.000,-
b. Penggandaan proposal Rp 30.000,-
c. Penggandaan undangan Rp 25.000,-
d. Biaya cetak Rp 100.000,-
2 Dekorasi Rp 200.000,-
3 Dokumentasi Rp 150.000,-
4 Transportasi Rp 500.000,-
5 Konsumsi Rp 750.000,-
6 Dana Perlombaan Rp 450.000,-
7 Perlengkapan Rp 300.000,-
8 Dana tak terduga Rp 200.000,-
Jumlah Pengeluaran Rp 2.775.000,-



MANUAL ACARA
No Hari dan Tgl. Waktu Acara Keterangan
1 Ahad, 7 Des 2008 Pukul 19.00 Persiapan lokasi Panitia
2 Senin, 8 Des 2008 Pukul 05.00 Pemberangkatan ke lokasi Semua Panitia
3 Pukul 06.00 Sholat idul adha Panitia dan Warga
4 Pukul 07.00 Penyembelihan hewan qurban Panitia dan Warga
5 Pukul 07.00 Persiapan out bond Panitia dan Siswa TPQ
6 Pukul 07.00-11.00 Out bond Panitia dan Siswa
7 Pukul 09.00-11.30 Pembagian daging qurban Panitia dan Warga
8 Pukul 11.00-12.30 Ishoma Panitia dan Warga
9 Pukul 13.00 Pembagian hadiah dan penutupan kegiatan bakti sosial Panitia, Warga dan Siswa


Nomor : 02/Pan FOSAMTORA/XI/2008 Surakarta, 2 Desember 2008
Hal : Himbauan Berqurban



“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan (Hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah) atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”
(Q.S Al- Hajj 28)
Kepada yth
Kaum Muslimin dan Muslimat
Di Surakarta

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam rangka menyambut ‘Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1429 H yang insya Allah bertepatan dengan tanggal 8 Desember 2008, Pengurus FOSAMTORA menghimbau kepada Bapak/Ibu/Saudara kaum muslimin dan muslimat untuk melaksanakan ibadah penyembelihan hewan qurban.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, Panitia ‘Iedul Adha 1429 H FOSAMTORA siap menerima hewan/uang penyembelihan hewan qurban dan mendistribusikan kepada yang berhak, dengan ketentuan sebagai berikut:
Besaran harga 1 ekor Kambing kecil Rp. 650.000
1 ekor Kambing sedang Rp. 800.000
1 ekor Kambing Besar Rp. 1.000.000

Pengurus FOSAMTORA juga menerima infaq/sodaqoh dalam rangka kegiatan ‘Iedul Adha 1429 H dan dapat diserahkan melalui bendahara panitia.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih, semoga menjadi amal sholeh kita semua. Amiin ya Robbal alamin.
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

PANITIA ‘IEDUL ADHA FOSAMTORA
TAHUN 1429 H/2008 M


IBRAHIM ARROSYID Choirul Ahmad Tabiin
Ketua Sekretaris
Mengetahui

Imam Muqoyyadi
Ketua FOSAMTORA


Drs. M. Suprawi Djuhri, MAg
Ketua IKPM cabang Surakarta