MOHON DO’A RESTU DAN UNDANGAN  

Posted by IKPM SOLO RAYA

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semulia-mulianya laki-laki adalah yang memuliakan wanita dan
Seindah-indahnya perhiasan dunia adalah wanita Shalihah,
Ya Allah izinkanlah kami untuk mengikuti sunah Rasul-Mu.





MOHON DOA RESTU ATAS PERNIKAHAN KAMI

THONY KUSWOYO, S.Th.I
Bin Suparman(alm) – Sri Sukamtini(almh)
Cabeyan, Rt/Rw. 10/03, Sembungan, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah
Dengan
SRI LESTARI, S.Pd
Binti Samin – Dimyati
Buduran, Rt.03, Kalikobok, Tanon, Sragen, Jawa Tengah


AKAD NIKAH
Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Ahad Wage, 10 Juli 2011
(08 Sya’ban 1432)
07.30 WIB
Dsn. Buduran, Rt.03, Kalikobok, Tanon, Sragen, Jawa Tengah


WALIMATUL ‘URSY I
Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Ahad, 10 Juli 2011
08.30 – 11.30 WIB
Dsn. Buduran, Rt.03, Kalikobok, Tanon, Sragen, Jawa Tengah,
Indonesia


WALIMATUL 'URSY II
Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Senin(malam), 11 Juli 2011
(09 Sya’ban 1432)
20.00 – 23.00 WIB
Cabeyan, Rt/Rw.10/03, Sembungan, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah
Indonesia

Merupakan suatu kehormatan, kesyukuran dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan do’a restu kepada kami mempelai berdua.
Atas kehadiran serta do’a restunya kami ucapkan banyak terimakasih.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Kami yang berbahagia
Keluarga

Bapak Samin                  Bapak Suparman(alm)
 Ibu Dimyati                     Ibu Sri Sukamtini(almh)


Ttd

Thony Kuswoyo, S.Th.I
Sri Lestari, S.Pd

____________________________________________________________
Kontak Person:
Imam Muqoyyadi / 081393421240
Nur Hidayat Al-Amin, Lc. / 082110592663

Pesan sponsor:
"Bapak/Ibu, Ust/h, Ikhwan/t yang berkenan menghadiri acara walimah I atau II mohon menghubungi kontak person kami sesegera mungkin...syukran."

HIDUP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Semenjak benih-benih bakal manusia melalui beberapa proses untuk 'Menjadi' menampakkan kehidupannya, maka sesungguhnya  seiring dengan itu semua denyut sejarah baru kemanusiaan juga tercipta. disana terdapat keterkaitan erat antara proses biologis dan spiritualitas yang tidak mungkin dipisahkan.

Dalam konteks Islam alur-kronologi pembentukan makhluk baru diiringi oleh beberapa fase yang berurutan secara sistematis, mulai dari janin kemudian terbentuknya jasad yang siap ditiupkan ruh kedalamnya hingga terbentuk tubuh yang sempurna dan siap dilahirkan ke dunia semuanya berjalan sesuai dengan Sunatullah dan atas kehendakNya. 

Kemudian ia lahir, besar dan tumbuh menjadi dewasa untuk berinteraksi dengan makhluk lain dengan membawa multi status yang harus diseimbangkan antara satu dan yang lainnya. Ia sebagai makhuk individu juga sebagai makhluk sosial, ia sebagai khalifah di muka bumi juga sebagai hamba dihadapan Allah Swt, ia sebagai makhluk yang kuat juga makhluk yang lemah, ia sebagai makhluk yang berakal juga sebagai makhluk yang jahil pada sisinya yang lain, dan lain sebagainya. Maka sepantasnya manusia memiliki panduan hidup untuk menyeimbangkan kesemuanya itu agar manusia tidak hanya tumbuh berkembang dari satu sisi saja sementara sisi yang lain terabaikan. Berkembang dari segi intelektualitas saja sementara segi spiritualitasnya tertinggal jauh.

Al-Qur'an sebagai petunjuk operasional dalam memberdayakan manusia dan seluruh makhluk hidup sesuai dengan Sunatullah dan misi-misi penciptaan alam tentunya memuat banyak hal tentang asal mula kehidupan, visi dan misi hidup yang sebenarnya. Dan makhluk yang paling memahami isi Hidayatullah itulah tentunya yang paling selamat hidupnya, walaupun ia akan mengalami perjalanan panjang lintas waktu, zaman dan lintas alam.

Dalam hal ini kita bisa membuktikan kebenaran daripada argument ini, bahwa tidaklah mungkin sebuah perusahaan mengeluarkan produk tanpa disertai dengan buku pedoman yang digunakan untuk mengoperasikan produk tersebut secara maksimal. Dan adalah suatu hal yang mustahil apabila produk itu bisa menjabarkan asal mula pembentukan dirinya serta menciptakan pedoman operasional untuk mengoperasikan dirinya secara sempurna. Komputer, mobil, handphone, dan elektronik lainnya bahkan robot pun tidak akan mampu membuat buku panduan untuk mengoprasikan dirinya secara sempurna dengan hasil yang maksimal. 

Begitu juga halnya makhluk hidup, misalnya ayam, sapi, kerbau, kambing, babi dan termasuk juga manusia. Karena meskipun manusia diberi kelebihan hati dan akal sebagai fasilitas untuk melakukan perubahan sejarah kehidupan ke arah yang lebih baik, akan tetapi hati dan akal manusia itu pada dasarnya amatlah terbatas.

Disinilah titik kelemahan manusia, disinilah bukti bahwa manusia harus belajar lagi dan disinilah manusia harus mulai belajar tentang eksistensi diri, misi penciptaan diri dan bagaimana seharusnya berada di dunia ini. Ia sama sekali bukan Tuhan, ia hanyalah makhluk yang dengan segala kekuasaannya justeru ia mengabdi, tunduk kepada kebesaran Allah Swt yang telah menciptakan dirinya.

Dengan demikian ia harus banyak mendapatkan didikan dan belajar kepada alam sesuai dengan konsep Islam yang dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat. “Artinya belajar tidak mengenal kata berhenti meski usia sudah lanjut dan manusia juga dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru.” Ia harus tegar menghadapi banyak tantangan untuk mengasah karakter dan kepribadiannya dengan selalu mengedepankan moral dan etika selaku makhluk yang beradab.

Ia harus memiliki agama yang menjadi dasar kehidupan spiritual dan ilmu sebagai alat untuk menyempurnakan amalan, karena Agama dan ilmu harus dijalankan dengan selaras. Sebab dalam pandangan Islam; agama tanpa ilmu akan pincang/lumpuh dan ilmu tanpa agama akan buta.

Jika spiritualitas telah didasarkan kepada pemahaman terhadap agama Islam dengan baik dan benar, dan intelektualitas telah diasah sedemikan rupa, niscaya misi penciptaan manusia telah sesuai dengan kehendak Allah Swt. dan manusia akan selamat di dunia dan bahagia di akhirat. Dan dunia pun akan terjaga dari kerusakan dan kehancuran, baik pada segi intelektualitas, spiritualitas, moral dan peradaban. Inilah konsep Islam sebagai Rahmat bagi Alam Semesta(Rahmatan lil A'alami), bukan sebagai fenomena yang mengerikan seperti orang-orang jahil menggambarkan. Kita harus menjadi generasi yang cerdas untuk memahami hal ini, Allahu Akbar... (Thony)

KECERDASAN  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Pada tahun ini saya berkesempatan mengunjungi kembali beberapa negara Eropah. Banyak fakta yang menarik untuk dibagi bersama. Diantara yang menarik adalah ketika saya berkunjung ke Inggeris, Maret 2010. Di Nottingham saya dapat cerita bahwa sebuah penelitian di Universitas Nottingham menemukan korelasi bahwa semakin bodoh seseorang itu ia semakin religius dan sebaliknya semakin sekuler dan bahkan atheist ia semakin cerdas. Saya tidak baca hasil riset itu. Tapi setahu saya, menurut hasil riset W.Cantwell Smith definisi religion di Barat itu masalah, dan otomatis arti “religiusitas” pun begitu. Makna cerdas pun juga masalah. Sebab kini berkembang istilah kecerdasan spiritual. Jadi desain penelitian tersebut nampaknya perlu dipersoalkan.

Benarkah masyarakat Barat sekuler sekarang ini cerdas. Perlu dikaji lebih lanjut. Jika maksudnya adalah kecerdasan intelektual itupun masih perlu ujian lebih mendalam. Sebab kecerdasan itu bukan karena pandangan hidup sekulernya, mungkin faktor lain. Jika maksudnya adalah kecerdasan spiritual, jelas sekali tidak benar.

Buktinya di Manchester, sinagog yang telah menjadi Museum, dan gereja yang telah menjadi Masjid. Di Birmingham, masjid Mu’az adalah bekas gereja dan seminari. Beberapa gereja di daerah Aston, Birmingham sudah menjadi sarang burung dara. Jumlah jemaat gereja kalah banyak dibanding “jama’ah” yang antri masuk bar. Gereja sudah tidak lagi dikunjungi banyak orang. Di sana tidak ke gereja berarti tidak religius lagi. Mungkin karena sudah putus asa, di Manchester terdapat nama gereja “A Church for those who don’t like to go to church”. Itulah arti pernyataan “spirituality has gone to the east”. Persis seperti kata Prof.David Thomas, dosen teologi di universitas Birmingham Barat itu maju tanpa agama. Artinya semakin sekuler, semakin rendah spiritualitasnya. Mungkin itu sebabnya mengapa di Barat training kecerdasan spiritual menjamur. Jadi riset diatas tidak reliable. Apalagi menurut Islam spiritualitas dan intelektualitas itu hampir tidak beda.

Benarkah jalan sekuler adalah pilihan cerdas dan solusi segala masalah. Ternyata tidak. Menyingkirkan agama dari publik malah bermasalah. Di Perancis, Jerman, Swiss dan beberapa negara Eropah yang anti agama, pemerintahnya mulai mengurusi agama. Di Inggeris pemerintah terpaksa membolehkan Muslim buka mahkamah syariah. Kini di Amerika malah muncul idea de-privatization of religion, artinya agama tidak lagi bersifat privat. Harvey Cox, yang pernah menjual idea sekularisasi agama-agama, akhirnya mengoreksi idenya itu. Ia lalu menulis makalah berjudul Reconsidering Secularism. Barat kini seperti dalam kebingungan.

Menjadi sekuler ternyata juga tidak membuat orang bijak bestari. Bulan lalu saya menyampaikan public lecture di Universitas Wienna, Austria. Temanya tentang moderasi dan toleransi. Seorang peserta bertanya, mengapa di Indonesia orang bisa lebih toleran tapi disini dan negara Eropah tidak. Jawab saya, Barat itu terlalu sekuler dan bahkan terlalu kaku, sehingga tidak toleran pada agama. Di Indonesia agama bisa muncul di ruang publik. Ceramah agama-agama bisa muncul di TV. Tabligh akbar, Natalan atau peringatan hari keagamaan bisa diadakan diruang publik. Sesuatu yang mustahil terjadi di Barat. Ini bukti lain bahwa menjadi sekuler itu tidak membuat orang arif dan toleran. Sekuler malah bisa berarti ekslusif.

Tapi anehnya, yang kini dituduh ekslusif adalah sikap keberagamaan. Itupun berdasarkan analisa abad ke 16 dan 17, disaat mana sekte-sekte agama di Eropah waktu itu sering konflik. Sekte-sekte, atau agama-agama itu punya tuhannya sendiri-sendiri (teori geosentris) dan saling menyalahkan. Konflik bermuara pada pembunuhan. Andrew Sullivan di The New York Times Magazine menggambarkan bahwa gara-gara perang salib, inquisisi dan perang agama Eropah abad 16 dan 17 berlumuran darah. Bahkan lebih banyak dibanding di dunia Islam.

Tapi anehnya situasi itu dianggap terus terjadi hingga sekarang. Yang jadi sample adalah peristiwa 11/9 yang sejatinya penuh misteri itu. Padahal konflik agama selama ini, jikapun ada, tidak sebesar konflik politik. Tidak sebesar perang teluk dan invasi AS ke Irak dan Afghanistan. Jumlah yang mati sia-sia pun lebih banyak konflik politik. Tidak puas dengan sample peristiwa Jack Nelson-Pallmeyer, merujuk kepada kitab suci. Ia lalu menulis buku “Is Religion Killing Us? Evidence in the Bible and the Qur’an”. Intinya, kedua kitab ini memerintahkan pembunuhan.

Tapi konflik antar agama bukan satu-satunya alasan. Konflik yang sebenarnya justru antara agama dan sekularisme. Peter Berger terus terang, sekularisme gagal dan diganti dengan pluralisme. Sikap ekslusif itu diganti menjadi sikap inklusif dan pluralis. Secara teologis agama yang banyak itu, oleh John Hick, diteorikan menjadi bertuhan sama. Teologi agama-agama itu diperkirakan nantinya akan bersatu. Itulah teori global theology John Hick. Anehnya teori yang bermasalah ini ada pengikutnya, termasuk di Indonesia.

Di Leed, saya melewati sebuah gereja. Di depan gereja itu tertulis, “all race, all nation, all religion but one god”. Saya lalu segera menyimpulkan ini pasti penganut paham global theology. Dalam perjalanan saya dari Leed ke London saya kebetulan duduk berdampingan dengan seorang pendeta berkulit hitam. Saya lalu bertanya tentang tulisan gereja di Leed itu. Ternyata bagi dia itu benar. Ketika saya berkunjung ke Centre of Islam-Christian Relation, di Selly Oak College, Birmingham, disitu terpasang gambar Jesus tapi kepalanya seperti gambar dewa Wishnu dalam agama Hindu. Itu simbul pluralisme dan kesamaan Tuhan agama-agama.

Di Universitas Salzburg, setelah kuliah umum saya sempat diskusi dengan dosen systematic theology Professor Hans Joachim Sander. Saya terkejut ketika dia mengatakan bahwa teori pluralisme John Hick itu tidak populer. Dan dalam Kristen idenya itu dianggap sudah usang. Pluralisme teologi itu, katanya adalah proyek Amerika. Bahkan dia terus terang “liberalisme itu omong kosong”. Ia juga sepakat ketika saya katakan bahwa semua agama sekarang ini sedang dipinggirkan dan bahkan ditindas. Alatnya adalah pluralisme, liberalisme, feminisme dan demokratisasi beragama. Lucunya, menindas agama tapi masih mencari jalan spiritualitas. Artinya menjadi sekuler atau liberal bukan pilihan cerdas tapi membingungkan diri sendiri dan orang lain. Begitulah nestapa masyarakat yang telah kehilangan misykat. Wallahu a’lam.

Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi

QALBU  

Posted by IKPM SOLO RAYA

Akhir-akhir ini pendidikan disoroti sebagai terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau spiritualistis sehingga nampak tidak rasional.

Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian. Ia meliputi seluruh aspek dalam diri manusia. Tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis. Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mengharuskan pemahaman tentang dua hal: pertama letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, bagaimana menanamkan itu semua kedalam diri manusia. Sistim apa yang cocok untuk pengembangan anak dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistim pendidikan yang terpadu, perlu dipikirkan terus menerus dan seksama.

Namun, sebelum berfikir tentang metode atau sistim perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan itu. Sebab jiwa manusia memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.

Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul Bayan al-Farq, Bayn al-Sadr,wa al-Qalb,wa al-Fuad wa al-Lub. (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar), Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran). Istilah-istilah sadr yang dalam bahasa Indonesia menjadi sadar-kesadaran ternyara berbeda artinya dari istilah qalb, hati atau kalbu. Fuad yang di Indonesiakan menjadi nurani berbeda lagi dari lubb yang arti sebenarnya adalah akal pikiran yang berimana. Ulul Albab adalah orang yang berakal fikiran tauhidi.

Namun itu semua merujuk kepada sesuatu yang bersifat batiniyah. Jika seseorang di bedah dadanya tentu sadr, qalb, fuad dan lub itu tidak akan ditemukan secara fisik. Maka dalam buku ini Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa hati atau qalb itu adalah nama yang komprehensif yang kesemuanya bersifat batiniyah alias tidak zahir alias tidak empiris.

Sadr ada di dalam qalb seperti kedudukan putihnya mata di dalam mata. Sadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk kedalam sadr dan bukan kedalam qalb. Akan tetapi sadr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata sadara (muncul), atau sadr (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb).

Jika sadr ada di dalam qalb maka qalb itu ada dalam genggaman nafs atau jiwa. Namun, qalb itu adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Dan baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan.

Sebagai raja qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka di dalam qalb itu pun terdapat ilmu.

Jika qalb (hati) itu adalah mata maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berfikir maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada ditengah-tengah hati, sedangkan hati ditengah-tengah sadar.

Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan sadr tempa cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah maka lubb berkaitan dengan cahaya ketauhidan.
Gambaran diatas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Kant transcendent. Tapi memang proses berfikir demikian adanya. Hanya saja yang ditekankan disini bukan bagaimana ilmu didapat akan tetapi bagaimana ia berproses menuju dari ilmu menjadi iman. Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim Tirmidhi diatas maka yang akan lahir adalah manusia-manusia tinggi ilmu dan imannya sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang. Wallau a’lam

Written by Hamid Fahmy Zarkasyi

Solo Raya - Suatu organisasi tanpa gerak dan kegiatan adalah sebuah wadah tidak bermakna, jangankan mengambil manfaat darinya bahkan untuk mempertahankan eksistensinya pun akan terasa sia-sia. Ungkapan ini bukan berasal dari organisator ulung atau nara sumber yang kadar intelektualitasnya tinggi, akan tetapi berasal dari hati nurani kita yang merupakan guru jiwa pejuang.

Kehidupan yang telah terbingkai oleh atmosfer yang pragmatis-materialis ini kadang-kadang membuat kita sesak dalam bernafas, jika tidak pandai kita memahamkan ajaran agama kita akan dianggap membual, terlebih jika pemahaman kita kurang mendasar maka semuanya hanya akan dianggap sebagai sebuah nyayian.

Ikhwan akhwat sekalian, bekal yang telah kita miliki memang belum cukup untuk melangkah dan berkecimpung dalam berbagai laga akan tetapi kita harus mengamalkan yang sedikit itu secara maksimal, maka dalam kondisi kita saat ini yang terbenturkan oleh beberapa problema dalam berorganisasi hendaknya kita menyuguhkan hal yang baik kepada umat ini, memberikan tauladan yang baik kepada generasi kita.

"Urunan Ide/iuran pemikiran" adalah kata yang tepat untuk membentuk dan menjalankan sebuah organisasi. Sebab dengan adanya sumbangan ide maka organisasi seperti IKPM kita ini akan berkembang, yang tentunya harus didukung dengan komunikasi yang baik antara sesama aktivis yang berkecimpung didalamnya dengan saling mengedepankan rasa tanggungjawab dan kedewasaan, karena rasa tanggungjawab dan kedewasaan inilah yang dijadikan salah satu tolak ukur bagi kemampuan kaum terpelajar dalam berorganisasi.

Maka ikhwan-akhwat sekalian dalam hidup berorganisasi menurut agama kita bukanlah siapa yang lebih unggul dan lebih bisa sendiri, akan tetapi mari kita duduk, berdiri, bergerak dan lari sama-sama untuk menggapai prestasi dalam memperjuangkan kehidupan umat ini.

Untuk itu semua marilah kita serap kembali Energi dari Al-Qur'an berikut ini:
  1. Taatlah kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantah, yang akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar (QS, Al-Anfal:46).
  2. Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang rapi bagaikan bangunan yang kokoh (QS, Shaf:4).
Pahami dan amalkan, insya Alloh kita akan selalu mendapatkan hidayah ketika kita membutuhkannya. Kembalilah kepada kedua ayat ini jika menemukan kebuntuan dalam bermufakat agar kita tetap bersama dan tetap selamat dalam perbedaan berpendapat.

Semoga kita termasuk bagian dari umat yang membawa manfaat dan bukan bagian dari mereka yang mendatangkan laknat, Na'udzubillahi min dzalik.(Thony)