ISLAM, TERORISME, dan H1N1  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Solo – Raya. Tidak aneh memang ketika bangsa ini mengalami banyak goncangan peristiwa kemudian Islam dijadikan objek sasaran dengan menunjuk-nunjuk hidung umat Islam untuk melampiaskan kekesalan, karena memang negeri ini dihuni oleh mayoritas umat Islam. Rasa-rasanya bangsa ini kurang bisa menyadari dengan baik apa yang sebenarnya terjadi dengan banyaknya peristiwa itu. Seberapa pun emosi seorang muslim jika ia memiliki pemahaman tentang agamanya secara baik dan benar tanpa dilebih-lebihkan, maka ia akan paham bahwa dalam Islam tidak ada anjuran untuk berbuat anarkis apapun alasannya.

Islam tidak mungkin akan melumpuhkan tatanan Negara Republik Indonesia yang dengan susah payah ia perjuangkan kemerdekaannya dari cengkraman kaum penjajah. Apakah kita telah melupakan hal itu? Sehingga dengan mudahnya menyebut Islam sebagai yang paling bersalah dalam peristiwa-peristiwa anarkis yang telah terjadi, padahal apa yang terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang Islam ajarkan.

Ikhwan/akhwat, lihatlah. Saat ini ada semacam nuansa kegalauan dihembuskan oleh pihak yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab. Dengan satu tujuan untuk kembali melemahkan sinergi umat ini - sebagai umat yang berkarakter dan punya identitas - dalam berbagai bidangnya terutama di negeri ini yang mulai menampakkan kemajuannya yang luar biasa dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan social-masyarakat, yang menjadi proyek percontohan kawasan Asia Tenggara dan Dunia Internasional dalam hal-hal yang kami sebutkan tadi.

Paling tidak ada tiga hal yang patut kita cermati dari sekian banyak instrument kegalauan yang sengaja digulirkan dalam komunitas umat ini:

Pertama; Orientasi perjuangan umat pada bidang politik tidak terarah dan tidak fokus. Entah disengaja atau tidak dalam hal politik umat ini telah terkotak-kotak, terpecah, dan tersekat, dalam partainya masing-masing yang berakibat tidak bisa bersatunya kekuatan umat, bahkan hanya untuk sekedar memenangkan PEMILU 2009 sekalipun. Ini adalah berita yang amat sangat menyedihkan, karena kita adalah umat mayoritas. Tapi kita harus hadir sebagai solusi disini, kita harus berbuat untuk keluar dari fenomena ini dan bersatu kembali demi kemajuan di masa yang akan datang, bukan membahas yang telah berlalu kecuali hanya untuk mengevaluasi.

Kedua; Islam menjadi objek utama berkaitan dengan tindakan terorisme diberbagai negara. Sejak beberapa tahun silam isu tentang terorisme yang mengobok-obok umat ini telah dilancarkan untuk memecah konsentrasi umat dalam menjalankan syari’atnya tanpa hasil yang signifikan, saat ini umat ini dalam ranah dan wilayah yang sama diserang lagi dengan isu tersebut, padahal pelakunya sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh pemegang aspirasi umat. Disini terdapat ketidakadilan Media dalam memberitakan aksi teror tersebut, seolah-olah Bom yang meledak itu adalah kehendak umat Islam, kehendak Instansi atau Lembaga Pendidikan yang berbasis Islam, seperti Ponpes Ngruki dan beberapa Lembaga Pendidikan Islam lainnya, padahal Islam sendiri berkali-kali menyatakan sikapnya yang tegas dan jelas tentang peristiwa yang menimpa bangsa ini, dan sebenarnya tidak perlu lagi Islam didekte untuk memahami makna Jihad dan bedanya dengan Teror oleh siapapun dan dimanapun. Seharusnya Media lebih cerdas dalam membaca semua ini, sehingga Media tidak mendapatkan image buruk yang hanya mancing di air keruh dengan wacana-wacana basinya, ditengah-tengah keprihatinan umat.

Ketiga; Dramatisir Virus H1N1, sebagai alat untuk memecah belah persatuan umat. Islam ini adalah sebuah agama yang amat sangat ’arif, selalu menganjurkan umatnya untuk selalu hidup dalam kebersamaan bukan saja dalam hal beribadah, akan tetapi dalam menghadapi segala tantangan zaman. Komunitas hidup berjama’ah ini tersimbolkan oleh Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam yang berangkat dari kultur yang berupa Pesantren. Itu berarti Ponpes adalah jantung dan nadi umat Islam. Sementara kalangan yang memusuhi Islam tentunya telah menganalisa ini semua kemudian merancang banyak misi, jika gagal dengan satu misi maka misi lain bolehlah dicoba. Adanya isu tentang wabah H1N1 ini bagaikan tambahan energi yang bisa dimodifikasi untuk membuat pusing dan memecah persatuan umat. Jika diekspose besar-besaran berita tentang banyaknya Ponpes yang diperkirakan terjangkit H1N1, maka tentunya umat yang telah hidup dalam atmosfir pragmatisme ini tidak mau lagi menganjurkan putra-putrinya untuk menuntut ilmu agama di Pesantren, dengan begitu lemahlah Islam di negeri ini pada beberapa masa yang akan datang, dan masuklah skenario musuh Islam ke negeri ini tanpa ada yang menghalangi lagi, Na’udzubillah min dzalik.

PR kita saat ini adalah memahamkan kepada umat Islam bahwa apa yang terjadi merupakan ujian Allah Swt atas keimanan kita. Sudahkah kita menjadi umat yang benar-benar beriman, atau beriman ketika kita berada di Masjid saja?. Jangan sampai kita lemah dengan banyaknya ujian yang kita hadapi, semakin kuat kita bertahan maka semakin banyak hikmah yang kita dapatkan, semakin banyak hikmah yang ada pada diri kita maka semakin meningkat pula derajat kita dihadapan makhluk dan dihadapan Allah Swt.

Dengan satu catatan bahwa Islam tidak akan pernah binasa dengan musim susah yang berkepanjangan dan tidak pula karena bencana, akan tetapi Islam akan binasa apabila umat ini mulai retak dan pecah. Sebagaimana Rasulullah dalam sebuah riwayat yang dibawakan Amir bin Said, Bersabda: ”Aku telah memohon kepada Allah Swt tiga perkara, dalam tiga perkara itu ada dua permohonan yang dikabulkan dan yang satu ditolak; 1.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan musim susah yang berkepanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 2.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh A.S). Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah Swt. 3.Aku telah memohon kepada Allah Swt supaya tidak membinasakan umatku dengan pergaduhan (percekcokan/perpecahan/peperangan antara sesama Islam). Tetapi permohonanku ini tidak diperkenankan (telah ditolak) oleh Allah Swt.”

Demikianlah Ikhwan/akhwat, semoga banyaknya peristiwa yang mengasah keimanan kita ini bisa menghantarkan kita menuju derajat Taqwa.(Thony)

Derap Langkah Kegiatan Kita  

Posted by IKPM SOLO RAYA


Solo Raya - "Tiada hari tanpa kesibukkan, tiada organisasi tanpa kegiatan." Dengan motivasi ini kita akan selalu terpacu untuk meraih yang terbaik, pelan tapi pasti (Alon-alon wathon kelakon/red.jowo) menjalankan kegiatan yang tak henti-henti. Mudah-mudahan semua itu menjadi semboyan IKPM Gontor cabang Solo Raya (IKPMG SR) dalam berjuang li I'laai kalimaatillah (Meninggikan ajaran Allah Swt).

Tahukah ikhwan/akhwat sekalian, bahwa setelah sukses dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan sebelumnya, tidak lama lagi IKPM kita ini akan melaksanakan beberapa kegiatan. Ada yang secara langsung dilaksanakan dan diprakarsai oleh Pengurus IKPMG SR, dan ada juga yang bersifat partisipatif.
Kegiatan yang secara langsung akan dilaksanakan oleh IKPMG SR bekerjasama dengan Universitas Syahid Surakarta adalah: Seminar Nasional "Refitalisasi Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Berkualitas dan Terjangkau oleh Rakyat", yang rencananya akan di selenggarakan di Universitas Syahid Surakarta, pada hari: Senin, Tanggal: 20 Juli 2009 mendatang. Insya Allah seminar ini akan diisi oleh para nara sumber yang benar-benar berkompeten dalam dunia pendidikan naisonal, antara lain: Dr.KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), Prof. Dr Furqon Hidayatullah, M.Pd. (Ketua Tim Sertifikasi Guru se-Surakarta), serta Dr H Sulistiyo MPd (Ketua Umum PGRI, Jakarta). Bagi yang berminat agar secepatnya menghubungi: Sdr. Imam Muqoyyadi dengan No Hp: 081393330301.




Adapun kegiatan yang bersifat partisipatif adalah Penyelenggaraan Perkemahan Akbar Tingkat Sekolah Dasar se-Pulokarto, yang pesertanya insya Allah terdiri dari sekitar 25-100 kontingen. yang akan dilaksanakan di wilayah Pulokarto-Sukoharjo. Kegiatan ini berupa kegiatan pendampingan perkemahan yang diselenggarakan oleh Sekolah Dasar Islam Terpadu Mardhatillah (SDIT Mardhatillah) yang melibatkan beberapa rekan dari pengurus IKPMG SR. rencananya dalam kegiatan perkemahan ini akan melibatkan Bapak Bupati Sukoharjo sebagai partisipan dan beberapa pihak dari tokoh masyarakat sebagai panitia. Dengan perpaduan antara Lembaga Pendidikan, Pengurus IKPM SR, Instansi Pemerintah, serta Masyarakat, diharapkan semua berjalan baik dan mencapai hasil yang maksimal.
Demikianlah Ikhwan/Akhwat sekalian semoga info ini bermanfaat, selamat berjuang. Semoga kita selalu diberi petunjuk dalam melangkah, amin. (Thony/operator)

Virus Dualisme  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

Dalam sebuah acara talk-show di sebuah stasiun TV Inggeris tahun 90 an ditampilkan isu pelacuran. Panelisnya pendidik, pastur, tokoh masyarakat dan beberapa pelacur. Hampir semua menyoroti profesi pelacur dengan nada sinis. Pelacur adalah sampah masyarakat. Pelacur mesti dijauhkan dari anak-anak. Merusak adat kesopanan sosial, dan seterusnya.

Tapi yang menarik giliran pelacur angkat bicara. "Saya memang pelacur. Dan saya melakukan ini karena saya janda. Saya menjalani profesi ini untuk menghidupi tiga orang anak saya. Kalian boleh saja mencemooh. Tapi siapa yang perduli jika anak-anak saya kelaparan, siapa! Siapa!" ia berteriak lantang. "Supaya kalian semua tahu, lanjutnya, saya memang pelacur tapi hati saya tetap suci". Hadirin pun bersorak.


Nampaknya orang bersorak bukan karena ia pelacur, tapi karena ia dualis. Menjadi pelacur dan merasa suci. Dua sifat yang kontradiktif. Yang saya heran justru mengapa mereka bersorak. Sebab doktrin dualisme sudah lama berakar di dalam pemikiran Barat. Asal usul terdekatnya adalah filsafat akal (philosophy of mind) yang digemari Descartes, Kant, Leibniz, Christian Wolf dan lain-lain. Menurut Christian Wolff misalnya "The dualists (dualistae) are those who admit the existence of both material and immaterial substances," tapi wujud materi dan jiwa tepisah. Pengertian ini disepakati Pierre Bayle dan Leibniz.

Bahkan konon Barat mewarisinya dari kepercayaan Zoroaster (1000 SM) di Timur. Dunia dianggap sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Thomas Hyde menemukan doktrin ini dalam sejarah agama Persia kuno (Historia religionis veterum Persiarum, 1700). Doktrin Zoroaster diwarisi oleh Manicheisme dan diramu dengan dualisme Yunani. Tuhan akhirnya dianggap sebagai person dan juga materi.

Bagi orang Mesir kuno Re adalah tuhan matahari simbol kehidupan dan kebenaran. Lawannya adalah Apophis lambang kegelapan dan kejahatan. Deva dalam agama Hindu adalah tuhan baik, musuhnya adalah asura tuhan jahat. Di Babylonia peperangan antara Marduk dan Tiamat adalah mitos yang mewarnai worldview mereka. Mitologi Yunani selalu menampilkan peperangan Zeus dengan Titans. Di Jerman perang antara Ases dan Vanes, meski berakhir damai.

Dalam filsafat, Pythagoras adalah dualis. Segala sesuatu diciptakan saling berlawanan: satu dan banyak, terbatas tak terbatas, berhenti-gerak, baik-buruk dsb. Empedocles setuju dengan Pythagoras, baginya dunia ini dikuasai oleh dua hal cinta dan kebencian. Plato dalam dialog-dialognya memisahkan jiwa dari raga, inteligible dari sensible.

Tapi apakah dualisme itu benar-benar realitas? Atau sekedar persepsi yang menyimpang? Sebab nilai-nilai monistis (kesatuan) dalam realitas juga ada dan riel. Heraclitus dan Parmenides mengkritik dualisme Pythagoras. Banyak itu itupun berasal dari yang satu yang abadi. Yang dianggap saling berlawanan itu sebenarnya membentuk kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Aristotle ikut-ikutan. Dualisme Plato juga tidak benar. Jika jiwa diartikan bentuk (form) dari raga alami yang berpotensi hidup maka jiwa adalah pasangan raga. Jadi jiwa dan raga adalah suatu kesatuan. Tapi Aristotle ternyata masih dualis juga. Ia memisahkan akal dari jiwa.

Dalam kepercayaan kuno pun unsur monisme juga wujud. Marduk ternyata turunan dari Tiamat. Zeus dan Titan berasal dari moyang yang sama. Leviathan ternyata diciptakan Tuhan. Pemberontak Mahabharata adalah dari keluarga yang sama. Dalam agama Zoaraster, kebaikan selalu dinisbatkan kepada Ahura Mazda atau Ohrmazd sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahra Mainyu atau Ahriman. Tapi dalam kitab Gathas, kebaikan dan kejahatan adalah saudara kembar dan memilih salah satu karena kehendak.

Para pemikir Kristen mulanya memilih ikut Plato, tapi mulai abad ke 13 mereka pindah ikut Aristotle dengan beberapa modifikasi. Di zaman Renaissance dualisme Plato kembali menjadi pilihan. Tapi pada abad ke 17 Descartes memodifikasinya. Baginya yang riel itu adalah akal sebagai substansi yang berfikir (substance that think) dan materi sebagai substansi yang menempati ruang (extended substance). Teori ini dikenal dengan Cartesian dualism. Tujuannya agar fakta-fakta didunia materi (fisika) dapat dijelaskan secara matematis geometris dan mekanis. Kant dalam The Critique of Pure Reason mengkritik Descartes, tapi dia punya doktrin dualismenya sendiri. Pendek kata Neo-Platonisme, Cartesianisme dan Kantianisme adalah filsafat yang mencoba merenovasi doktrin dualisme. Tapi terjebak pada dualisme yang lain.

Perang antara monisme dan dualisme, sejatinya adalah pencarian konsep ke-esaan-an (tawhid). Peperangan itu digambarkan dengan jelas oleh Lovejoy dalam bukunya The Revolt Against Dualism. Fichte dan Hegel, misalnya juga mencoba menyodorkan doktrin monisme, tapi bagaimana bentuk kesatuan kehendak jiwa dan raga, tidak jelas. Nampaknya, karena arogansi akal yang tanpa wahyu (unaided reason) maka monisme tersingkir dan dualisme berkibar. Jiwa dan raga dianggap dua intitas.

Seorang dualis melihat fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait satu sama lain, karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci. Atau sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik dan raga pasti jahat. Padahal dari jiwalah kehendak berbuat jahat itu timbul. Dalam Islam kerja raga adalah suruhan jiwa (innama al-a'mal bi al-niyyat). Karena itu ketulusan dan kebersihan jiwa membawa kesehatan raga.

Dualis dikalangan antropolog pasti memandang manusia dari dua sisi: akal dan nafsu, jiwa dan raga, kebebasan dan taqdir (qadariyyah & jabariyyah). Dalam filsafat ilmu, dualisme pasti merujuk kepada dichotomi subyek-obyek, realitas subyektif dan obyektif. Kebenaran pun menjadi dua kebenaran obyektif dan subyektif. Bahkan di zaman postmo kebenaran ada dua absolut dan relatif. Dalam Islam konsep tawhid inherent dalam semua konsep, tentunya asalkan sang subyek berfikir tawhidi.

Nampaknya doktrin dualisme telah memenuhi pikiran manusia modern, termasuk pelacur itu. Pernyataan pelacur itu tidak beda dari dialog dua sejoli dalam film Indecent Proposal, "I slept with him but my heart is with you". Seorang dualis bisa saja berpesan "lakukan apa saja asal dengan niat baik". Anak muda Muslim yang terjangkiti pikiran liberal akan berkata `jalankan syariah sesuka hatimu yang penting mencapai maqasid syariah". Kekacauan berfikir inilah kemudian yang melahirkan istilah "penjahat yang santun", "koruptor yang dermawan", "atheis yang baik", "Pelacur yang moralis", dan seterusnya. Mungkin akibat ajaran dualisme pula Pak Kyai menjadi salah tingkah dan berkata "Hati saya di Mekkah, tapi otak saya di Chicago". Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya.
___________________________________________________________________

Solo Raya
- Ikhwan/akhwat, ada baiknya kita merenung sejenak di antara hiruk-pikuk dan kepenatan hidup ini, untuk sekedar kembali membetulkan posisi sholat kita, ibadah kita, langkah-langkah dalam aktifitas keseharian kita agar tetap berada dalam Aqidah yang Salimah. jadikanlah diri kita ini generasi yang cerdas membaca kebenaran di antara sekian banyak hal yang salah, baik dari sisi paradigma pemikiran maupun pada aplikasi atau penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tulisan diatas adalah ulasan salah seorang dosen kami tentang dualisme pemikiran yang menggejala pada sosial masyarakat kita yang tampaknya perlu kita pikirkan, kita carikan solusinya, serta kita Islah bersama.

Tahap yang paling sederhana untuk memperbaiki kondisi setelah di acak- acak oleh Dualisme pemikiran adalah dengan menelaah ulang kitab-kitab Aqidah Salimah dan mengamalkannya secara benar, serta berusaha menambah endapan-endapan keyakinan kita dengan menelaah kembali kebesaran Allah Swt disekitar kita. Karena banyak kenyataan telah terpampang dihadapan kita, bahwa generasi umat ini telah dikaburkan oleh banyak wacana dan penjelasan secara langsung maupun tidak langsung tentang ajaran Islam dari pihak-pihak yang dianggap sebagai 'publik figur' padahal bukan kapasitas mereka untuk menjelaskan hal-hal yang i'tiqadi (bersifat keyakinan).

Dalam keadaan semacam ini, maka peluang kita untuk berda'wah amat sangat luas. Bukalah kembali pemahaman mereka tentang kebenaran Islam, dan jangan biarkan mereka teracuni oleh kesalahan-kesalahan berpikir. Agar Allah SWT akan selalu melindungi kita. Allahu Akbar. (operator/Thony)

Menarik Investasi dari Negara Minyak  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

KETIKA negara tujuan utama investasi bangkrut akibat krisis finansial, ke manakah gerangan pemilik modal akan pergi menanamkan uangnya? Di saat Amerika Serikat dan Eropa berubah dari semula surga return dan yield tertinggi menjadi pusat loss terbesar dalam sejarah ekonomi, bukankah harus ada tempat tujuan lain sebagai alternatif?

Indonesia bersemangat untuk menjawab pertanyaan itu dalam Forum Ekonomi Islam Sedunia atau World Islamic Economic Forum kelima yang berlangsung di Jakarta 1-4 Maret lalu. Yaitu tempat tujuan alternatif tersebut kiranya adalah Indonesia.

Bagi investor, krisis finansial global memang telah mengubah Amerika Serikat dari tempat yang menggiurkan menjadi tempat yang menakutkan. Padahal, hukum besi dalam kepemilikan dan pengelolaan kapital telah menjadikan perputaran modal sebagai sebuah keniscayaan. Kapital yang tidak bergerak adalah kapital yang tidak produktif karena cenderung tidak menghasilkan, bahkan dapat menyebabkan pengurangan nilai. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi investor selain menempatkan, menggerakkan, dan memutarkan kapital agar terus terjamin produktivitasnya. Para pemilik dana masif di negara-negara Islam, khususnya jazirah Arab tentu saja bukan pengecualian dari pola dan kecenderungan seperti itu.Bila selama ini mereka memusatkan penempatan investasi atau portofolio mereka di Amerika Serikat atau Eropa, adalah masuk akal bila mereka membutuhkan tempat tujuan lain yang jauh lebih aman dari kerugian dan kebangkrutan. Pertanyaannya adalah mampukah negeri ini menjadi tempat tujuan alternatif itu?

Bagi Indonesia, investasi dari negara-negara Arab penghasil minyak sejatinya bukan sesuatu yang sama sekali baru. Dalam lima tahun terakhir, dua pemodal dari negara-negara Islam kaya minyak sudah masuk ke Indonesia. Qatar Telecom, misalnya, memiliki 65% saham Indosat dan Saudi Telecom menguasai 51% saham Axis.

Masuknya modal dari negara penghasil minyak itu tentu perlu ditingkatkan dan didiversifikasikan. Ditingkatkan dalam soal nilai investasi sehingga menambah jumlah modal yang masuk.
Didiversifikasikan terkait dengan sektor yang menjadi tujuan investasi sehingga penempatan kapital tidak hanya dalam bentuk portofolio pengambilalihan saham, tetapi juga berupa investasi langsung yang dapat menggerakkan sektor riil, misalnya di bidang pertanian, industri pengolahan, dan sektor padat karya lainnya.

Karena itu, pemerintah dan dunia usaha harus bersama-sama menghadirkan dan menciptakan iklim yang paling kondusif sehingga para investor Arab itu benar-benar menanamkan modalnya di negeri ini. Bukan janji semata. Yang tetap harus diingat adalah jazirah Arab, seperti bagian lain dari bola bumi, juga menerima akibat yang sama atas krisis yang berpusat di Amerika. Hal itu, di satu sisi, mempersulit dan memperumit upaya menarik petrodolar. Tetapi, di sisi lain, menjadi tantangan bagi lahirnya kreativitas dan kepiawaian.

Dari Islam, Oleh Islam, untuk Islam  

Posted by IKPM SOLO RAYA in

5th WIEF Soroti Krisis Pangan, Energi Alternatif, Krisis Keuangan, Serta Usaha Kecil dan Menengah



Penyelenggaraan 5th World Islamic Economic Forum (WIEF) yang berlangsung pada hari kedua di Jakarta (3/3) diwarnai dengan beberapa pleno yang membahas berbagai topik bahasan menyangkut krisis global di bidang pangan, energi alternatif, keuangan, serta usaha kecil dan menengah.

Krisis pangan global yang mulai dirasakan oleh masyarakat dunia dinilai sebagai akibat dari melambungnya harga minyak dunia yang turut berimbas pada kenaikan biaya produksi pangan. Selain itu, kondisi dipersulit dengan semakin ketatnya persaingan pasar sehingga pangan jadi susah untuk dijangkau oleh masyarakat kurang mampu. Forum WIEF menyoroti berbagai langkah yang dapat diambil untuk memulihkan kondisi tersebut sekaligus melihat bagaimana kontribusi dunia Islam dalam meredakan tekanan pasar.

Di bidang energi alternatif, pleno dalam 5th WIEF mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan dari badan dunia PBB, pengembangan teknologi energi alternatif dapat menciptakan banyak lapangan pekerjaan pada tahun-tahun mendatang. Bahkan pada tahun 2030, muncul dugaan bahwa jumlah pekerja yang saat ini bergerak di sektor industri biofuel dapat meningkat jumlahnya hingga 12 juta. Berangkat dari laporan PBB tersebut, WIEF melihat bahwa sektor energi alternatif yang ramah lingkungan dapat memunculkan peluang-peluang baru dan strategis bagi investasi sekaligus mewujudkan bumi yang lebih hijau.

Krisis keuangan global yang saat ini tengah melanda dunia dan nyaris menenggelamkan negara-negara besar ke dalam resesi, juga menjadi perhatian utama WIEF. Dalam forum ini, WIEF mencoba menawarkan pemulihan bagi keuangan global, antara lain, dengan penerapan Islamic banking sebagai salah satu jalan alternatif keluarnya.

Di tengah perkembangan globalisasi yang semakin pesat, usaha kecil dan menengah juga dinilai perlu untuk difasilitasi oleh pemerintah agar tidak kalah bersaing dan terlindas oleh industri-industri besar. Selain itu, berbagai strategi dibahas dalam pleno WIEF tentang bagaimana mengembangkan usaha-usaha kecil dan menengah untuk juga dapat bersaing di pasar internasional, tidak hanya di dalam pasar domestik saja.

Forum internasional ini kemudian ditutup oleh Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla dan melahirkan deklarasi Jakarta yang merupakan rangkuman rekomendasi dalam rangka pengembangan ekonomi Islam dan dunia. Deklarasi tersebut dibacakan oleh Wakil Ketua DPD RI Irman Gusman di depan para delegasi. (humas)

Alquds – Infopalestina: Ketua Dewan Tinggi Islam dan juga Khatib Masjid al Aqsa, Syaikh Ikrimah Sabri, memperingatkan terjadinya intifadhah ketiga untuk membela al Quds terjajah dalam menghadapi yahudisasi dan pengusiran yang dilakukan entitas Zionis Israel.

Hal tersebut disampaikan Sabri dalam pernyataan kepada harian al Khalij, Jumat (6/3). Dia mengatakan, "Intifadhah rakyat menghadapi ketidakadilan dan penindasan tidak perlu berkonsultasi dengan siapapun." Dia menekankan bahwa praktik-praktik, serangan permusuhan dan pelanggaran terhadap rakyat Palestina dan al Quds secara khusus, bisa mendorong terjadinya ledakan.

Dia mengisyaratkan adanya rencana Zionis yang mengerikan terhadap al Quds. Di mana otoritas penjajah melaksanakannya secara bertahap selama dalam kondisi yang baik. Dia menyatakan bahwa upaya untuk mengusir warga Palestina dari al Quds dan meningkatnya gelombang peringatan untuk membongkar puluhan rumah di "Ra’sul Khamis dan perkampungan al Tur, Beit Hanina, Silwan dan Bustan, adalah dalam rangka pelaksanaan program ini.

Dalam pada itu, Imam dan Khatib Masjid al Aqsha, Dr. Yusuf Jum,ah memperingatkan bahwa rencana Zionis Israel terhadap al Aqsha telah sampai pada tahap akhir. Dia mengatakan, "Jika orang Arab tidak menggunakan potensi meteri dan politiknya, mereka akan terbangun di suatu hari dan menemukan masjid al Aqsha telah roboh karena penggalian Zionis Israel yang dilakukan di bawah masjid al Aqsha. Terlebih kelompok-kelompok agama Zionis Israel baru-baru ini membuat lentera emas untuk ditempatkan atas puing-puing al Aqsha begitu roboh sebagai persiapan untuk membangun kuil yang mereka klaim.

Otoritas penjajah Zionis, Kamis (05/03), kemarin, telah menyerahkan surat kepada 36 keluarga Palestina di kampung Silwan dan Abadisa, berisi pemberitahuan pembongkaran rumah-rumah mereka dalam rangka pengusiran yang dilakukan entitas Zionis Israel guna melasakanakan rencana yahudisasi mereka terhadap kota al Quds.

http://www.infopalestina.com/ms/default.aspx?xyz=U6Qq7k%2bcOd87MDI46m9rUxJEpMO%2bi1s7bGU5cHroRGJV4KRPa%2bU05mUrys0nvSn7PnZuw%2b0y2FbhXy%2b%2fZyW3%2bBc57EYI3ebNu6MEMGreRIfG%2bq25CM6mm7Ub7x26LGoSjdilN49rS9Q%3d.

___________________

Ikhwan/akhwat, sekali lagi mari kita berdoa... (operator/Thony)

PENGGALANGAN BEASISWA BERKELANJUTAN BAGI SANTRI/WATI  

Posted by IKPM SOLO RAYA

  1. Pendahuluan

Bismillahirrohmanirrohim,

Asslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kita bisa merasakan nikmat Iman dan Islam. Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurahkan bagi Nabi Muhammad SAW yang telah membimbing kita, umat Islam, dari masa jahiliyah ke masa yang penuh cahaya Islam.

Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan primer. Suatu bangsa tidak akan bisa maju tanpa didukung kualitas pendidikan. Allah SWT pun telah begitu banyak memerintahkan umat-Nya untuk mempelajari ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu duniawi. Tanpa ilmu agama, suatu bangsa akan tersesat. Sedangkan tanpa ilmu duniawi, suatu bangsa akan terjajah.

Melihat kondisi pendidikan umat Islam di Indonesia, terutama pendidikan di daerah, sangat miris rasanya bila dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Banyak di antara santri/wati pesantren yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan dana. Padahal, tidak sedikit diantara mereka yang sebenarnya memiliki potensi tinggi. Namun, apalah artinya sebuah potensi yang tinggi, jika tidak diimbangi dengan fasilitas dan kondisi lingkungan yang mendukung.

Hal demikian juga terjadi pada sebagian santri/wati di Pondok Modern Gontor. Karena terbatasnya pendanaan dari para wali maka mereka dengan sangat terpaksa harus berhenti melanjutkan studi, padahal masa studi mereka kurang beberapa semester lagi.

Berlandaskan hal tersebut, kami selaku Majelis Pembimbing Konsulat Surakarta mencoba untuk mencari solusi lain. Salah satunya melalui permohonan Biaya Studi yang ingin kami sampaikan melalui proposal ini.


  1. Penggalangan Beasiswa Berkelanjutan

Nama Program :Penggalangan Beasiswa Berkelanjutan bagi santri/wati yang tidak mampu.

Sasaran :Pemenuhan biaya sekolah untuk santri/wati yang tidak mampu.

Latar Belakang Program :

1. Sosial ekonomi orang tua siswa yang kurang memadai sehingga tidak mampu memenuhi biaya sekolah santriwati.

2. Terdapatnya santriwati yang terpaksa menghentikan studinya karena tidak mampu memenuhi biaya studi.

3. Keterbatasan dana yang ada pada majelis pembimbing sehingga tidak mampu menutupi kekurangan biaya tersebut.

Sebagaimana kami sebutkan di awal pemaparan program ini. Bahwa santri/wati yang mempunyai kesulitan dalam hal pembiayaan tidak sedikit jumlahnya. Maka Kami berupaya melakukan beberapa hal untuk penggalangan dana ini, diantaranya dengan:

1. Mensosialisasikan nama-nama santri/wati yang membutuhkan bantuan finansial kepada teman-teman mereka yang sekiranya sanggup untuk membantu kesulitannya, sebagai bentuk pendidikan beramal jariyyah.

2. Menginformasikan kepada para wali santri/wati yang berminat berinfaq dan beramal jariyah, bahwa ada beberapa santri/wati yang perlu dibantu dalam hal pembiayaan studi.

3. Menginformasikan kepada para wali santri/wati, alumni, simpatisan, serta ikhwan/akhwat sekalian, bahwa ada santriwati yang perlu dibantu dari segi materi dan pembiayaan studi di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Walaupun hasilnya belum bisa maksimal akan tetapi rasa syukur kami atas bantuan dari para donatur telah mendorong kami untuk lebih kreatif lagi dalam ber-ikhtiar .


  1. Koordinator Pelaksana Program

Pada dasarnya program ini disosialisasikan dan dilaksanakan oleh para Ustadz dan Ustadzah selaku Majelis Pembimbing konsulat Surakarta yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor, serta beberapa pihak terkait dari pengurus IKPM Gontor cabang Solo Raya.


  1. Anggaran Program

Dalam Program Beasiswa Berkelanjutan ini, total pembulatan anggaran yang dibutuhkan per-tahunnya untuk setiap santri/wati adalah: ± Rp. 6.380.000,00 (Enam Juta Tiga Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah), dengan rincian Sebagai Berikut:

No

Jenis Kebutuhan

Banyak

Biaya ( Rp )

1.

Uang pangkal

1 x 1 tahun

1.200.000,00

2.

Uang Iuran bangunan


600.000,00

3.

Uang kepanitiaan

1 x 1 tahun

100.000,00

4.

Uang kertas

1 x 1 tahun

200.000,00

5.

Uang majalah Gontor

1 x 1 tahun ( 12 edisi )

170.000,00

6.

Uang kesehatan

1 x 1 tahun

150.000,00

7.

Uang Spp dan makan

@ 330.000,00 x 12 bln

3.960.000,00

Total

6.380.000,000

Terbilang: Enam Juta Tiga Ratus Delapan Puluh Ribu Rupiah

Total Biaya Minimal Tahunan Setiap Santri/santriwati : Rp. 6.380.000,00

( Belum termasuk iuran keorganisasian dan pembelian buku pelajaran )


Berdasarkan pada pengeluaran pokok tiap bulan santri/wati: ± Rp. 500.000,00. (Lima Ratus Ribu Rupiah) dengan rincian:

No

Jenis Kebutuhan

Biaya ( Rp )

1.

Uang SPP dan uang makan

330.000,00

2.

Biaya kebutuhan selama sebulan

170.000,00

Total

500.000,00

Terbilang: Lima Ratus Ribu Rupiah


  1. Beramal Jariyyah Dalam Program Beasiswa Berkelanjutan

Bagi bapak/ibu, ikhwan/akhwat, para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, serta para simpatisan yang berminat untuk berinfaq dan beramal shadaqah sebagai bentuk partisipasi berapapun nominalnya insya Allah akan dicatat sebagai amal jariyah. Maka bapak/Ibu ikhwan/akhwat, para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, serta para simpatisan sekalian dapat melakukannya dengan ditransfer melalui no. rek Perwakilan Pengurus IKPM Gontor cabang Solo Raya yang selanjutnya akan didistribusikan kepada Pembimbing Konsulat Surakarta yang telah ditentukan:

A. No. Rekening BRI: 1064-01-000119-50-5 / a.n: Imam Muqoyyadi

Telp/Hp: +6281393330301

B. No. Rekening Bank Mu’amalat: 6019239147653599 / a.n: Yeni Insyirah

Kontak Person: +6281335521837


  1. Penutup

“Tidak ada gading yang tak retak”. Pada prinsip ini kami gantungkan kepercayaan. Begitu pula dengan informasi permohonan singkat ini, pasti tidak luput dari berbagai macam kesalahan. Atas semua kesalahan yang ada, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Semoga maksud Program ini bisa dimengerti dengan baik dan bisa berjalan sesuai harapan. Sehingga Bapak/Ibu dan Ikhwan/akhwat sekalian dengan penuh keikhlasan bisa bersama-sama kami beramal jariyyah membantu kesulitan para kader umat dalam menyelesaikan studinya, dan akhirnya mereka menjadi generasi yang shaleh dan shalehah, yang luas wawasan serta berguna bagi Agama, Bangsa, dan Negara.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Mengetahui

Pembimbing Konsulat Surakarta


Ust. Thony Kuswoyo, S.Th.I







___________________________________________________________________________

Profil Santri/wati Kurang Mampu Yang Perlu Dibantu


Setelah kami menganalisa keadaan santri/wati yang berasal dari konsulat Surakarta yang kurang mampu dalam hal pembiayaan studi di Pondok Modern Gontor. Data sementara menunjukkan bahwa diantara sekian banyak santri/wati ada 2 santriwati yang hendaknya diprioritaskan untuk dibantu dalam hal tersebut, mereka itu adalah:


1. Nama : Endah Nuri Asih

No. STTB : 9333

Kelas : 5 F

Alamat : Ngemplak, RT 11/ RW 06, Banaran, Kalisambe, Sragen. 57275

Wali murid

Ayah : Widodo

Pekerjaan : Wiraswasta

Ibu : Sunarsih

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Keadaan keluarga:

Pada awalnya santriwati ini tergolong mampu membiayai studinya sampai kelas 4 dengan prestasi yang bisa dibanggakan, akan tetapi setelah naik ke kelas 5 Kulliyyatul Mu’allimin al- Islamiyyah (KMI), indikasi ketidak mampuan dalam pembiayaan mulai terasa. Sehingga ketika ujian menjelang anak ini tidak dapat lagi melunasi persyaratan administratif yang telah menunggak selama satu semester.

Bapaknya bekerja sebagai buruh tukang kayu pembuat meubel, yang penghasilannya amat sangat minim (Penghasilan: Rp 120.000,00/ bulan), jangankan untuk membiayai kelanjutan studi anaknya, untuk menghidupi keluarga yang ada di rumah pun amat sangat kesulitan, meskipun ibunya juga berusaha mencari penghasilan tambahan.

Hal inilah yang membuat kami tergerak untuk mencarikan solusi yang terbaik baginya serta kelanjutan studinya di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri ini.


2. Nama : Hikmah Hasanah

No. STTB : 12148

Kelas : 5 K

Alamat : Ngabetan, RT 08/ RW 04, Kadibolo, Wedi Klaten. 57426

Wali murid

Ayah : Nur Rochman

Pekerjaan : Petani

Ibu : Almarhumah

Keadaan keluarga:

Hikmah adalah seorang santriwati yang punya keinginan kuat untuk belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri. Walaupun Ibundanya telah tiada dan ia sekarang hidup bersama neneknya, ia tetap ingin melanjutkan studinya sampai menamatkan jenjang KMI di Gontor Putri. Akan tetapi rupanya ujian hidup yang ia dapatkan tidaklah ringan. Ia hanya bergantung kepada neneknya yang buruh tani dengan penghasilan rata-rata hanya: Rp 75.000,00/ bulan. Tentu penghasilan ini jauh dari kata-kata cukup.

Kesulitan Hikmah ini kami ketahui setelah ia tidak mampu melunasi pembayarannya yang telah nunggak beberapa bulan ditambah dengan uang pangkal. Sedangkan ayahnya juga berpenghasilan rendah, karena ia bekerja sebagai kuli serabutan.


(Nama santri/wati kurang mampu serta data-data mereka kemungkinan akan terus di tambah dan diperbaharui sesuai dengan laporan yang masuk ke Majelis Pembimbing).